arrow_back Kembali
Ruang Katekese 31 July 2017

KETAKUTAN

KETAKUTAN

Siapa Takut? Pertanyaan ini sangat menantang dan  bernada provokatif. Pertanyaan ini dapat diinterpretasi ganda yaitu tidak ada lagi orang yang takut, tidak ada lagi sesuatu yang ditakuti dan jangan atau tidak perlu takut.
Sebagai orang beriman, kita sering berhadapan dengan pilihan atau kenyataan yang berbuntut ketakutan. Dan hal itu membuat orang tidak kreatif. Orang beriman dalam pandangan Yesus haruslah kreatif. Kretaivitas orang beriman harus bertumpu pada ketakutan akan Allah.
Dalam masa reformasi seperti sekarang ini, tampaknya kata takut atau ketakutan mulai menjauh dari kehidupan kita. Era reformasi adalah era keberanian. Era penyingkiran rasa takut yang memungkinkan bahkan memberikan harapan baru bagi manusia untuk dapat hidup dan menjalankan kehidupan ini secara baik. Saat ini telah muncul nabi-nabi baru yang menuntut kebebasan, keterbukaan, keadilan, dan kebenaran. Semua orang semakin berani menuntut haknya dengan pelbagai macam cara dan sarana.
Mengacu pada bacaan-bacaan pada hari Minggu ke-12 ini dalam konteks reformasi rasa-rasanya tidak relevan dan tidak aktual bagi kita. Mengapa? Karena saat ini hampir semua orang sudah mulai berani terhadap siapa saja dalam masalah apa saja. Dan bacaan-bacaan minggu ini mengingatkan kita supaya jangan takut. Apakah benar hidup kita telah sungguh-sungguh bebas dari rasa takut itu?
Sehebat apa pun keberanian manausia, sekuat apa pun tuntutan reformasi yang kita alami; tidak akan membebaskan kita dari gangguan sahabat karib kita yang namanya ‘takut’ atau ketakutan itu. Kalau kita jujur dan mencoba melihat keseluruhan pengalaman hidup kita maka kita akan sampai pada satu titik kesimpulan bahwa hidup kita manusia dianyam dari ketakutan-ketakutan dan dibangun di atas ketakutan. Hidup kita ini diberi arti justru karena adanya jalanan ketakutan dalam diri dan hidup kita. Kalau ada dari antara kita ini merasa diri tidak memiliki ketakutan maka betapa kerdil hidup orang itu. Ketakutan memungkinkan orang kreatif dan dinamis. Rumah-rumah dipagar tembok dan digembok takut dijarah maling. Semua pengemudi kendaraan harus memperhatikan rambu-rambu lalu lintas, takut ditilang polisi. Barang-barang impor harus diteliti takut tercemar atau terkontaminasi dioksin yang membahayakan. Orang berlajar karena takut ketinggalan pengetahuan. Partai-partai politik menggunakan cara-cara yang kurang terpuji karena takut kalah dalam pemilu. Para pejabat menumpukkan harta ilegal karena takut tanpa harta menjelang usia senja. Orang-orang rajin berdoa karena takut masuk neraka. Singkatnya orang berbuat sesuatu entah itu sifat baik atau buruk selalu bermula dari adanya perasaan takut. Ketakutan mendahului keberanian untuk melakukan sesuatu.
Ketakutan dapat memposisikan manusia pada dua pilihan yang saling berseberangan. Karena merasa takut orang bisa melakukan kejahatan. Tetapi karena rasa takut juga orang bisa melakukan sesuatu yang baik. Dalam konteks seperti ini maka ada dua jenis ketakutan. Jenis yang pertama adalah ketakutan Primitif (status quo). Dan ketakutan jenis kedua adalah ketakutan Modern. Ketakutan primitif adalah ketakutan yang mendorong orang melakukan segala yang jahat. Sebaliknya ketakutan modern adalah ketakutan yang memungkinkan orang terlibat dalam pelbagai tindakan yang baik, yang membawa kemajuan bagi dunia dan kehidupan manusia. Dalam kehidupan manusia, ketakutan primitif cenderung menguasai manusia. Ketakutan primitif itu ada sejak manusia pertama Adam dan Hawa terlibat dalam satu rekayasa karena takut. Mereka takut tidak sama seperti Allah membuat pasangan itu berani makan sesuatu yang dilarang. Adam dan Hawa mewariskan model ketakutan primitif, ketakutan status quo.
Yesus adalah tokoh atau figur yang paling radikal dalam menuntut perombakan atau proses reformasi terhadap kehidupan manusia. Yesus di utus ke dunia untuk melakukan reformasi total terhadap dunia. Yesus diutus ke dunia untuk mengalahkan ketakutan primitif yang memperbudak manusia. Yesus datang mau mewariskan kepada dunia sebuah ketakutan bercorak modern, ketakutan yang bernada reformis, ketakutan yang mendorong manusia menghindar-kan diri dari segala tindakan dan perbuatan yang tercela. Yesus datang dan menuntut manusia untuk takut kepada Allah yang memungkinkan manusia mengharapkan kehidupan. Ketakutan primitif yang diwariskan sejak Adam ditaklukan dengan ketakutan reformis, ketakutan yang menghidupkan di tangan Yesus.
Reformasi yang tengah kita banggakan saat ini belumlah reformasi seperti yang diharapkan Yesus. Kita semua masih dikelompokkan sebagai orang yang dikuasai ketakutan primitif. Karena itu, ajakan Yesus “janganlah kamu takut” masih aktual, masih relevan untuk kehidupan kita. Yesus menuntut para pengikut-Nya agar tidak takut menghadapi manusia yang dikuasai ketakutan primitif. Yesus membekali umat beriman dengan ketakutan modern, ketakutan reformis.
Saudaraku, tuntutan Yesus dalam injil hari ini sungguh menantang kita. Pernyataan Yesus pada dasarnya mengharapkan kita sebagai pengikut-Nya untuk tampil sebagai nabi yang memiliki ketakutan akan Allah untuk mengalahkan ketakutan-ketakutan yang memperpanjang staus quo kedosaan manusia. Menyangkal Allah dan hidup berlawanan dengan kehendak Allah sama artinya kita memilih ketakutan primitif. Risikonya adalah maut dan kematian. Mengakui Allah dan melakukan kehendak-Nya akan menjadikan kita sebagai kelompok reformis. Yesus menantang kita entahkah kita pilih mengakui Allah atau menyangkal-Nya. Kekuatan-kekuatan jahat yang lahir dari ketakutan primitif akan terus kita hadapi, tetapi Tuhan memberi jaminan kemenangan buat kita yang membela dan berpihak kepada kebenaran. Karena itu, kita boleh mengibarkan panji bertuliskan “Kalau Allah di pihak kita siapakah yang berani melawan dan mengalahkan kita?” Mudah-mudahan kita lebih takut kepada Allah dari pada takut kepada manausia.(Hd)