arrow_back Kembali
Renungan 25 November 2017

KESETIAAN WANITA DAN TALENTA DALAM DIRI MANUSIA

KESETIAAN WANITA DAN TALENTA DALAM DIRI MANUSIA

   
Dalam bacaan pertama kitab Amsal terdapat kutipan sebuah pujian untuk wanita idaman. Nampaknya kutipan himne itu berasal dari lingkungan bordjuis, dimana kerap kali menuntut secara berlebih-lebihan.
Bagi penulis himne, wanita ideal mempunyai ciri-ciri sebagai berikut yaitu mau bekerja, tahu kewajiban, hadir sebagai hadiah ilahi, setia, realistis dalam hidup.
Pada waktu himne itu disusun, memang kedudukan wanita belum menguntungkan. Tembok-tembok masih dianggap menguntungkan melindungi wanita dari lingkaran jahat. Tetapi putri Yahudi memang memiliki hubungan yang intim dalam keluarga, dan ini membawa tanggung jawab besar.
Peranan ibu dalam rumah tangga, dalam himpunan umat beriman memang penting. Istri yang cakap mengatur rumah tangga, menghayati iman, merumuskan kasih, tekun dalam karya – ini semua mempunyai tempat tersendiri dalam kehidupan. Gambaran wanita demikian merupakan salah satu cermin optimisme dalam mengembangkan hidup.
Kharisma wanita dalam hidup sehari-hari memberi kehalusan. Pekerjaan sehari-hari menjadi ungkapan iman dan kasih kepada Allah dan sesama. Tangan yang terulur menyatakan perhatian, kehangatan dan solidaritas. Hidup ini sering keras, tetapi kehadiran wanita menumbuhkan kehalusan, sering juga keharuan. Putri yang cantik bisa menghebohkan, tetapi tidak akan tahan lama. Putri yang mengolah nilai-nilai pribadi yang agung, akan tetap mengagumkan. Keindahan yang sejati memang diharapkan abadi. Tetapi keindahan itu lalu bukan semata-mata dalam lahir. Keindahan itu harus bersumber pada pribadinya.
Putri yang agung dalam pengalaman iman akan menampilkan kasih Allah yang lembut, tahan dan gembira. Ia akan menjadi lambang damai di bumi.
Dalam Injil Suci Matius menceriterakan perumpamaan talenta yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia berbeda-beda “masing-masing menurut kesanggupannya” (Mat 25:15). Tuhan memberikan  secara berbeda-beda, makanya juga menuntut berbeda-beda. Ia tidak menuntut lebih. Setiap orang diukur sesuai dengan usaha dan ketekunannya, sesuai dengan kondisi dan situasinya. Dalam perumpamaan itu diperlihatkan bagaimana para hamba ini mempertanggungjawabkan pemberian tuannya. Demikianlah cara kerja Tuhan. Kelimpahan kasih karunia-Nya jauh melampaui jasa pengabdian manusia. Dan toh tidak semua sadar akan hal itu dengan segala upaya mereka berusaha lari dari tanggung jawab dan mencari “kambing hitam”nya.
Jika orang memahami maksud Allah dengan segala pemberian talenta kepada masing-masing orang dan mau mengingat kebesaran kasih-Nya yang terwujud dalam diri Yesus Kristus, maka kecaman pedas dalam perumpamaan ini tidak terjadi. Setiap pemberian menuntut pertanggungjawab penggunaannya. Ini sesuai dengan martabat manusia ciptaan yang memiliki rasa tanggungjawab dan berpribadi. Pemberian Tuhan bagaimanapun kecil dan sepelenya harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Bukankah setiap orang adalah “unik” yang artinya, sumbangan dan jasanya bagi masyarakat sekelilingnya tidak bisa digantikan oleh orang lain?
J. Widajaka Pranata, CM