arrow_back Kembali
Renungan 05 December 2015

KESELAMATAN DARI TUHAN?

Apakah saya merindukan Tuhan? Untuk apa? Apakah saya mengharapkan keselamatanNya? Apa arti keselamatanNya bagi saya? Bagaimana saya mengusahakannya? Beberapa pertanyaan mendasar tersebut mungkin tak lagi pernah kita persoalkan, karena kita dipenuhi kesibukan sehari-hari. Masalah segala jaman, lebih-lebih jaman ini adalah orang begitu sibuk dengan apa yang di depan mata saja, kurang memikirkan masa depan yang jauh lebih berharga.
Seorang ibu yang sibuk memilih menyibukkan anaknya dengan tablet yang dapat menyajikan game atau tontonan yang menarik perhatian anak. Beberapa tahun kemudian ibu ini harus membayar mahal ketika anaknya malas belajar, karena kecanduan main game dengan tabletnya.  Yang lebih menguatirkan anak ini juga sering kali tak peduli dengan orang di sekitarnya, termasuk keluarganya sendiri.
Suami istri muda memilih untuk terus mengejar peluang mendapat rejeki sebanyak-banyaknya untuk membangun rumah sendiri. Tanpa disadari mereka lalai membangun rumah tangganya, yakni relasi kasih satu sama lain dan dengan anak-anaknya. Mereka tak sempat menggereja dan mengikutkan anaknya dalam Sekolah Minggu. Rumah gedung mereka memang terbangun beberapa tahun kemudian, namun rumah tangganya tak terselamatkan, mereka tak merasa saling mengasihi lagi dan terancam cerai,  anaknya yang mulai remaja sulit diatur, sekolahnya juga berantakan.
Kita sering tak sadar bahwa pilihan kita saat ini menentukan hidup kita di masa depan. Kebiasaan kita untuk tenggelam dalam kesibukan membuat jalan hidup kita terlalu berliku, tanpa sadar kita menggali jurang dalam relasi kita satu sama lain. Bertobat berarti sadar bahwa kita hanya selamat kalau mengutamakan Tuhan kembali, dan bersama Tuhan memilih langkah-langkah hidup kita sehari hari untuk membangun keluarga dan hidup yang selamat sejahtera: “Semoga kasihmu semakin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian. Dengan demikian kamu dapat memilih apa yang baik, agar kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus” (Flp 1:9-10)
Untuk bertobat kita perlu memasuki padang gurun keheningan untuk berjumpa dengan Tuhan seperti Yohanes, dan bersamaNya meluruskan kembali hidup kita yang tak lagi tulus, menimbun jurang relasi kita dengan saling mengampuni dan saling memerhatikan. Dengan begitu maka pandangan kita untuk melihat Tuhan yang mendatangi kita akan jelas. Tak lagi tertutup oleh gunung kesombongan kita, atau lembah keputusasaan dan rasa tak berharga kita.BersamaTuhan kita akan merasa hidup yang penuh makna, dan bersama sanak keluarga dan sahabat kita melihat keselamatan yang dari Tuhan. (sad budi)