KESEDERHANAAN YANG KUDUS
- Sancta Simplicitas -
“Tuhan memberkati dan melindungimu.
Ia menyinarimu dengan wajahNya dan memberimu kasih karunia.
Ia menghadapkan wajahNya dan memberimu damai sejahtera”
(Bilangan 6:24-26)
Adapun 3 hal mendasar yang bisa kita maknai untuk semakin beriman bersama Maria, sebuah kesederhanaan yang kudus, antara lain:
1.”Bersaudara adalah jalan menuju kedamaian”: Maria terbuka dan bersaudara dengan semuanya: Di kandang Betlehem, ia bersaudara dengan tiga raja dan para gembala yang bersahaja. Di Yerusalem, dia bersaudara dengan pengalaman dukacita dan Golgota. Sudahkah kita juga “bersaudara” (terbuka) dengan banyak orang dan aneka pengalaman lainnya, entah baik/buruk?
2.”Berdamai adalah jalan menuju keberiman-an”: Maria disebut sebagai “Regina Pacis" - Ratu Damai- karena hidupnya selalu membawa kedamaian dan bukan pergunjingan, ketulusan dan bukan kepalsuan, pujian dan bukan gosipan. Ia tidak mudah menjadi orang yang hiruk pikuk seperti pepesan kosong tapi ia menjadi pribadi yang kontemplatif, yang menyimpan segala perkara dalam hati dan merenungkannya.
Hatinya peka dan sikapnya yang introspektif membuat hidup dan hadirnya selalu mendamai-kan bagi semua orang. Sudahkah kita juga selalu mengusahakannya?
3. ”Beriman adalah jalan menuju kebahagiaan”: Inilah hari pertama di Tahun 2017 sekaligus "Hari Raya Santa Maria Bunda Allah" dan "Hari Perdamaian Sedunia" yang penuh sukacita.
Hari ini Tuhan yang sudi menjadi bayi diberi nama "Yesus" oleh Maria, IbuNya. Dalam iman kita, Maria adalah Bunda Allah / (Yunani: Theothokos, Latin: Mater Dei), karena ia dipilih untuk menjadi Bunda Yesus. Dan karena Yesus itu sungguh Allah dan sungguh manusia, maka Maria juga pantas disebut sebagai Bunda Allah sekaligus “Ratu Damai”.
Esensi “ibu/bunda” yang kita rayakan hari ini ada pada “rahim”nya yang hangat. Bersama Maria, Gereja mengajak kita juga belajar mempunyai “rahim” yang hangat bagi orang lain, terlebih orang yang kecil, miskin dan tersingkir/disingkirkan. Jadi di awal hari di tahun baru 2017, kita diajak punyai “BCH”- “Bersahabat -Cakap dan Hangat.” Sudahkah kita selalu lahir baru di tahun yang baru?
Bersama Maria, sudahkah kita juga semakin mengimani Tuhan yang tampak hadir lewat sesama setiap harinya?
”Hari Perdamaian Sedunia”:
Pax et bonum – Damai dan Kebaikan. Itulah yang selalu diharapkan. Lihat saja: setiap awal misa: “Peace be with you”, lalu pada akhir misa: “Go in peace” bahkan pada setiap nisan di makam: “Rest in Peace”. Jelas bahwa Tuhan mengajak kita untuk pergi beristirahat dan selalu hidup dalam damai.
Iman yang mengajak kita menjadi “peace-maker” dan bukan “troublemaker”, sebuah iman yang harus dihorisontalkan secara real dan aktual setiap harinya. Mari kita terus maju di tahun yang baru. Lewat kata warta, kita diajak BERSAHABAT dengan semua orang yang berkehendak baik.
Saudaraku, mari kita berharap ditahun 2017, hidup kita menjadi lebih baik. "Dum spiro spero" - Aku berharap selagi aku masih bernafas. Ya, jalani hidup ini dengan penuh harapan, walau hidup tak selalu bahagia dan ceria, tak selalu penuh suka dan tawa.
Bagikanlah harapan dengan belajar memberi senyuman, walau hati kadang tak lagi mampu untuk bertahan.
Bagikanlah harapan dengan belajar memaaf-kan, walau dirimu sangat terluka.
Bagikanlah harapan dengan belajar berhati iklas karena dalam hidup ini, kadang yang kita rencanakan berjalan tidak seperti apa yang kita harapkan.
Kehidupan yang penuh harapan mengajarkan bagaimana kita membuat semua kejadian menjadi kebaikan dan bukan kejahatan, ketulusan dan bukan kebulusan, pujian dan bukan cacian, sapaan dan bukan pergunjingan.
“Felix sit annus novus" - Selamat Tahun Baru -
Tuhan Memberkati Kita Sekeluarga - Amin -