arrow_back Kembali
Ruang Katekese 09 September 2018

KERENDAHAN HATI

KERENDAHAN HATI

 
'Untuk apa orang harus menjadi rendah hati?' Sebab orang yang rendah hati memiliki kemampuan untuk menerima dirinya sebagai makhluk yang terbatas. Manusia adalah makhluk ciptaan dan sama sekali tergantung kepada yang lain, baik itu kepada Sang Pencipta, maupun kepada sesama dan kepada alam semesta. Kesadaran akan ketergantungan ini membuat seseorang akan merasa dan yakin bahwa ia akan senantiasa membutuhkan yang lain dan tak mungkin ia akan hidup sendirian dengan kekuatannya sendiri. Jika orang sadar akan keterbatasannya, sadar bahwa ia membutuhkan yang lain, maka ia pun akan mampu menghargai orang lain, lingkungannya dan dirinya sendiri. Penghargaan ini tentu saja bersumber dari kesadaran bahwa jika aku sendirian maka aku tidak akan lengkap dan bahagia serta sempurna. Kegembiraan hidup justru akan tercapai bila aku tidak selalu penuh, tapi ada ruang kosong dalam diriku untuk diisi oleh orang lain, diisi oleh Allah yang adalah sumber dan tujuan hidup manusia. Karena itu, kerendahan hati tetap merupakan salah satu ciri khas kehidupan kristiani sebagaimana ditegaskan dalam Injil hari ini. Ungkapan seperti kehilangan hidup untuk mendapatkannya, yang terakhir akan menjadi yang pertama, dan "yang merendahkan diri akan ditinggikan" (Luk.14:11)
Banyak tokoh masyarakat dan Gereja yang menjadi besar bukan karena perbuatan hebat yang mereka lakukan tetapi justru karena perbuatan yang sederhana yang sungguh berarti bagi orang lain. Dengan karya sederhana yang mengalir dari kesederhanaan dan kerendahan hatinya, Ibu Teresa menjadi sosok manusia yang di-kenang sebagai pelaku karya kemanusiaan yang besar dan meng-harukan. Kebesaran orang-orang 'besar' justru terjadi karena mereka mau berbuat hal-hal kecil, namun sangat berarti bagi orang lain. Kegembiraan sejatipun akan kita capai jika kita mampu berbuat sesuatu kepada orang lain yang tidak mampu membalasnya.
Saudaraku, orang sombong yang berbuat banyak cenderung hanya mencari pujian. Orang rendah hati yang berbuat banyak cenderung tidak mengharapkan pujian. Karena dalam lubuk hatinya yang terdalam justru memancarkan pujian yang tulus, nikmat dan hangat serta tak berkesudahan. Bagaimana dengan hati Anda? (Hd.)