KERAJAAN SURGA
Perumpamaan ketiga dalam Injil hari ini (dua lainnya telah kita dengarkan dua Hari Minggu yang lalu) dipakai Yesus untuk menerangkan rasa tanggung jawab setiap orang terhadap Allah dan sesama manusia. Dalam perumpamaan ini Yesus menunjukkan sikap dasar serta apa dan bagaimana seharusnya dilakukan oleh setiap orang dalam hidup dan perbuatannya, bila ia sungguh ingin hidup dalam Kerajaan Surga yang diwartakan dan didirikan-Nya.
Perumpamaan hari ini menimbulkan banyak pertanyaan bagi kita. Ceritera perumpamaan itu seolah-olah membenar-kan prinsip ekonomi kapitalistik dalam mengolah uang. Padahal dalam Injil biasanya Yesus memberikan ajaran tentang penggunaan uang atau kekayaan secara lain sama sekali, seolah-olah sebagai pertentangan. Di samping itu lain sekali cara atau metode yang dipakai Yesus dalam minta pertanggungan jawab tentang uang yang dipercaya-kan kepada ketiga hamba si pemilik uang. - Apakah Yesus mau menunjukkan adanya perbedaan kemampuan setiap orang dalam mengerjakan anugerah-anugerah Allah? Kedua hamba pertama itu memahami anugerah yang diberikan Allah, yang begitu baik hati. Maksudnya agar mereka itu meniru si pemilik yang baik hati itu dan berusaha melakukannya juga dalam hidup mereka sendiri sehari-hari. Ataukah Allah itu digambarkan sebagai orang yang baik seperti si pemilik uang? Ataukah pemilik uang itu menurut pandangan hamba yang ketiga adalah sebagai orang yang kejam, yang tidak menabur tetapi menunai, dan memungut di mana ia tidak menabur?
Sikap dan reaksi hamba ketiga tak mudah ditebak: ia tampak berhati-hati. Rupanya ia adalah orang yang jujur dan tulus. Memang ia bukan yang paling cerdas, sebab ia menerima jumlah uang terkecil, tetapi seandainya ia bukan orang yang berkelakuan baik, ia pasti tak akan diberi suatu bagian walaupun hanya sedikit. Sebaliknya kedua hamba yang lain adalah orang-orang yang tahu berdagang. Mereka tahu dan berhasil melipatduakan modalnya. Hamba ketiga sebaliknya adalah orang yang hidup penuh ketakutan, sebab si tuan pemilik uang bersifat tamak, loba, lapar uang, tak mau rugi. Karena itu demi “keamanan” hamba ketiga itu tidak mau mengambil risiko, maka uang itu disimpan dan disembunyikan. Jadi hamba ketiga itu tak mau mengambil risiko, dan tak mau mengambil putusan yang tidak pasti. Akibatnya, tanggapan si pemilik uang sangat keras. Hamba ketiga itu kehilangan segala yang dimilikinya. Seandainya ia secara jujur mau berusaha melaksanakan tugasnya, meskipun mungkin tidak berhasil, mungkin ia menerima perlakuan yang lain dari tuannya dan lebih dapat dipahami.
Secara sederhana, TALENTA itu mengandung tiga ajakan kebaikan, antara lain:
1. TA-burkan iman
Mengacu pada bacaan hari ini, jelas bahwa hal Kerajaan Surga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan harta/talentanya kepada mereka. Dengan kata lain : TUHAN yang mempercayakan ‘hartanya’ itu sungguh mengajak kita untuk terus menaburkan iman.
2. LEN-yapkan setan
Ia menganugerahkan talenta kepada kita bukan supaya kita menjadi orang yang jahat dan malas tapi menjadi orang yang baik dan rajin, yang selalu memelihara dan menumbuhkembangkan talenta dengan pola “TTS"- Tekun-Tanggung jawab dan Setia.”
3. TA-kutlah akan Tuhan.
Perumpamaan ini mengingatkan kita bahwa tempat dan pelayanan kita di surga akan ditentukan oleh kesetiaan dalam kehidupan dan pelayanan kita di bumi.
Talenta sendiri bisa melambangkan semua kemampuan, waktu, sumber daya dan kesempatan kita untuk melayani Allah ketika masih hidup. Hal-hal ini akan dianggap oleh Allah sebagai sesuatu yang dipercayakan kepada kita dan kita bertanggung jawab untuk mengelolanya dengan sebijaksana mungkin. Dengan kata lain: Kedudukan dan warisan di surga akan sebanding dengan pengabdian kita sekarang kepada Allah di dunia (Luk 22:24-30).
Saudaraku, Yesus taat dan melakukan kehendak Bapa berarti memiliki kemauan, keberanian dan kesediaan untuk menolong orang lain disertai kesanggupan menanggung segala risiko. Tuhan memberikan kepada setiap orang anugerah sesuai dengan kemampuannya. Kesediaan untuk menerima dan menggunakannya sesuai dengan kehendak-Nya, seperti dilakukan oleh Yesus sebagai teladan, dengan segala risikonya, itulah yang akan menentukan keputusan Allah pada pengadilan terakhir untuk hidup kita masing-masing. Marilah kita kembangkan talenta agar hidup semakin bercahaya. Tuhan memberkati kita semua. (Hd)