arrow_back Kembali
Renungan 17 October 2018

KELUHURAN KELUARGA KRISTIANI

KELUHURAN KELUARGA KRISTIANI


"Betapa luhurnya hidup perkawinan itu" Yesus menunjukkan keluhuran perkawinan itu ketika Ia ditanya oleh orang-orang Farisi "Bolehkah orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?" Yesus tidak mau menjawab tentang apa yang boleh, tetapi balik bertanya tentang apa yang harus dilakukan menurut hukum mereka. Jawab-Nya: "Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Dengan demikian mereka bukan lagi dua melainkan satu." (Mrk.10:7-8) Yesus mau menegaskan bahwa kesatuan suami-isteri yang tak terpisahkan itu sudah dikehendaki Allah sejak awal mula. Maka Ia menandaskan: "Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."(Mrk.10:9) Dari penegasan Yesus ini, kita dapat melihat betapa luhurnya hidup perkawinan. Perkawinan itu bukan cuma perkara manusiawi tetapi benar-benar masuk dalam perkara ilahi. Itu berarti suami-isteri harus berani ikut ambil bagian dalam karya Allah di dunia ini, berani menjadi perpanjangan tangan dan hati Allah sendiri.
Seperti halnya Kristus merawat, menguduskan, mengasihi bahkan menyerahkan seluruh hidupNya bagi Gereja-Nya, demikian pula hendaknya suami-isteri. Hubungan Kristus dan Gereja-Nya itulah yang akhirnya menjadi dasar hubungan suami-isteri. Sebagaimana perkawinan kristiani diangkat dalam martabat sakramen sebab di sinilah dihadirkan hubungan kasih Kristus kepada Gereja-Nya; sama halnya Kristus tak kenal lelah dalam mengasihi Gereja-Nya, demikian pula hendaknya kasih suami-isteri. Dengan demikian kesatuan suami-isteri yang sudah dikehendaki Allah sejak semula itu dijelaskan secara sempurna dalam kesatuan Kristus dan Gereja. Inilah yang seharusnya menjadi pola kesatuan hubungan suami-isteri kristiani. Maka tidak ada jalan lain bagi suami-isteri selain memegang teguh kesatuan suami-isteri. Memegang teguh berarti memupuk, membina kasih itu dari hari ke hari dan menjauhkan diri dari segala sesuatu yang mengarah pada keretakan hubungan harmoni suami-isteri.
Saudaraku, keluarga adalah sel terkecil umat Allah, perwujudan Gereja yang paling kecil, namun paling utama. Gereja hanya bisa kokoh kuat bila keluarga-keluarga yang terhimpun di dalamnya juga kokoh kuat. Bagaimana dengan keluarga Anda sendiri? (Hd.)