arrow_back Kembali
Ruang Katekese 04 August 2018

KEKUATAN KOTBAH

KEKUATAN KOTBAH

     Cinta merupakan sebuah kekuatan yang dapat mengubah seseorang secara radikal, meski tak mempunyai wujud fisik. Itulah sebabnya cinta adalah sebuah entitas yang penuh misteri, yang dialami oleh hampir setiap orang, dan menjadi tema pembicaraan, diskusi, tulisan, cerita yang tak ada habis-habisnya sepanjang segala jaman.
Demikian pula halnya dengan kotbah. Sebuah kotbah yang sungguh-sungguh mengalir dari kuasa Allah, sungguh-sungguh berkuasa mengubah hati, pikiran dan akhirnya hidup para pendengarnya. Misalnya Santo Antonius dari Padua.
Ketika kubur Santo Antonius dari Padua yang meninggal pada abad ke-13 digali, terdapatlah ke-ajaiban besar: di antara tulang-belulang rahangnya yang sudah kering, ditemukan lidah St. Antonius masih utuh dan segar! Ini mukjijat besar. Lidah tersebut  sampai sekarang masih disimpan di gere-ja St. Antonius dari Padua di kota Padua, Italia. Namun, apa yang mau diungkapkan oleh keutuhan dan kesegaran lidah St. Antonius dari Padua ini? St. Antonius adalah seorang pengkotbah  ulung selama hidupnya dan sepanjang abad. Dengan lidahnya St. Antonius mengajar umat, mengabarkan Kabar Gembira bahwa "di dalam Kristus dan oleh darah-Nya, manusia beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa ..." (bdk. Ef. 1:7) Karena lidahnya mempunyai kekuatan dalam mewartakan penebusan sehingga banyak orang berubah menjadi lebih baik; Tuhan memberi anugerah khusus kepada St. Antonius dari Padua dengan cara membuat lidahnya segar selama berabad-abad
Pewartaan lewat kotbah merupakan dinamo spiritual dari seluruh program Gereja. Pentingnya pewartaan lewat kotbah ini sudah disadari oleh Yesus dan itulah sebabnya Ia mengambil keputusan untuk  'mengutus murid-murid-Nya berdua-dua' dengan tugas utama mewartakan pertobatan, mengusir roh-roh jahat, dan menyembuhkan mereka yang sakit. Yang sangat menarik dari tindakan Yesus ini adalah kenyataan bahwa para muridNya tidak diutus seorang diri, tetapi berdua-dua dan tidak boleh membawa apapun, selain kasut dan pakaian yang melekat ditubuhnya.(Mrk.6:7-8). Dengan tindakan Yesus ini ingin menegaskan bahwa pewartaan itu bukanlah terutama sebuah kotbah verbal, tetapi sebuah penghayatan, sebuah kesaksian. Penghayatan hidup yang sesuai dengan yang dikotbahkan inilah sesungguhnya yang menjadi kekuatan sebuah kotbah (integritas) dan bukan kotbah yang dapat menggugah emosi dan perasaan. Pengkotbah adalah orang yang mampu hidup bersama dan mendengarkan orang lain, yang mau membagi diri dan miliknya, yang tak hidup sendirian dengan segala egoisme personalnya.
Santo Antonius dari Padua berkotbah berkeliling dengan memiliki harta satu-satunya yakni ke-miskinannya. Ketika ia berkotbah, ia tidak perlu memberikan bukti-bukti dari apa yang dikotbahkan-nya, sebab bukti itu melekat pada dirinya sendiri, yaitu kesahajaannya, atau kehidupan Kristus sendiri yang senantiasa dipentaskan dalam seluruh gerak hidupnya. Jadi kekuatan dan keindahan dari sebuah kotbah terletak pada hidup yang baik dan bersahaja, hidup yang sederhana tetapi menawan.
Seorang pengkotbah akan kehilangan kekuatan-nya bila kotbah dijadikan sebagai alat untuk mem-populerkan diri dan menumpuk harta duniawi. Mereka bukan lagi mewartakan Yesus dan Kabar Keselamatan, tetapi mengabarkan dirinya dengan memanfaatkan nama Yesus. Inilah nabi-nabi palsu  yang banyak bergentayangan dalam masyarakat modern sekarang ini.
Saudaraku, Anda mungkin mulai berpikir tentang orang lain yang mirip nabi-nabi palsu tadi. Jangan! Berpikirlah tentang diri Anda sendiri, apakah pola pikir, sikap, tingkah-laku dan tindakan serta hidup Anda sudah memancarkan sinar hidup Kristus sendiri? Jadi keseluruhan hidup Anda adalah pewartaan. Milikilah integritas dan konsisten dalam berjuang untuk hidup menjadi lebih baik serta setia pada keputusan Anda sebagai pengikut-Nya. Bila Anda memiliki integritas, konsisten dan setia maka Anda sama dengan pengkotbah yang ulung. (Hd)