arrow_back Kembali
Ruang Katekese 13 December 2017

KEHENINGAN

KEHENINGAN

'Hidup ini selalu bergerak bagaikan air sungai yang mengalir' demikian kata Heraklitos, seorang ahli filsafat Yunani mengomentari kesibukan manusia sepanjang sejarah. Apalagi manusia yang hidup di zaman hiruk pikuk modern dewasa ini. Mulai bangun di pagi hari  sudah menyetel radio atau televisi untuk mengetahui berita tentang dunia, bisnis dan perkembangan politik, dlsb. atau melirik messages di HP-nya. Ketika di kantor sudah disibukkan menghubungi rekan-rekan bisnisnya. Demikian sepanjang hari mereka sibuk berbicara, mendengar, berdebat, tertawa, menangis karena ternyata menerima cek kosong. Dalam pergerakan dan aktivitas yang maha dahsyat ini manusia akhirnya cenderung melupakan dirinya dan bingung mau ke mana tujuan hidupnya. Jika sudah sampai pada kondisi seperti ini maka religiositas manusia luntur. Manusia mulai tak mampu lagi berdoa, bertegur sapa dengan Yang Ilahi dan bahkan lebih parah lagi, mereka mulai tidak mampu lagi merasakan dan menemukan peran Tuhan dalam hidupnya karena segala hiruk-pikuk duniawi yang mengubur dirinya hidup-hidup dalam beban kehidupan yang menjerat dirinya. Saat inilah manusia membutuhkan suatu "Ziarah ke gurun" seperti yang dilakukan Yohanes Pembaptis. (Mrk.1:1-8)
Bekerja itu baik dan merupakan suatu kewajiban utama manusia namun orang perlu juga 'bekerja untuk jiwanya' dalam keheningan. Banyak orang tidak memahami bahwa keheningan adalah bagian dari kehidupan dan keheningan itu bukanlah tidur di malam hari, tetapi keheningan yang diupayakan, diciptakan, direncanakan dan dinikmati dalam suatu 'week end' rohani. Dalam keheningan kita akan mampu mendengarkan suara Tuhan yang halus, yang sama sekali tidak kedengaran dalam hiruk-pikuk dunia. Oleh karena itu, keheningan dalam jiwa yang bening ini perlu kita alami agar kita mampu mendengarkan suara Tuhan yang berbicara dan menemukan kegembiraan sejati yang mengantar kita pada pertobatan. Dan buah dari pertobatan yang sejati adalah damai di hati, di pikiran, di tubuh dan jiwa. Seperti yang diserukan Yohanes Pembaptis: "Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu."
Saudaraku, apa upaya Anda untuk menjawabi kebutuhan 'jiwa' Anda dalam keheningan agar damai Tuhan hadir di hati? (Hd.)