KEGEMBIRAAN - HARAPAN
Bagaimana keadaan hidup kita, bila di dalam keseharian kita tidak menemukan kebahagiaan, kegembiraan? Bagaimana seandainya di dalam diri kita masing-masing tidak ada suatu harapan yang mau diraih? Hidup tanpa kegembiraan dan harapan bagaikan hidup tanpa roh, tiada arah tujuan, menyerah, pesimistis. Hidup seperti ini dapat diartikan hidup tanpa makna dan kreativitas.
Dalam minggu ini kita memasuki masa Adven pertama. Pada masa Adven ini kita diajak untuk menyadari dan melihat kembali bahwa tujuan hidup kita, kegembiraan dan harapan yaitu Tuhan Yesus. Dengan demikian, kita hendaknya sungguh-sungguh mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus Sang kegembiraan dan harapan kita tersebut. Ia membawa keselamatan dan keadilan bagi dunia (Yer 33: 15-16). Apa yang harus kita siapkan? Yaitu hidup yang berkenan kepada Allah dengan sungguh-sungguh (Tes 4:1-2). Dalam bacaan Injil, Tuhan Yesus mengajak kita bergembira, bangkit dan mengangkat muka sebab penyelamatan kita sudah dekat (Luk 21:28). Tuhan juga mengingatkan kita untuk menjaga diri agar jangan sampai hati kita sarat dengan pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi (ay.34). Hendaknya kita berjaga-jaga dan senantiasa berdoa (ay.36).
Dalam masa Adven ini, kita berupaya untuk bertobat, membaharui diri terus-menerus dengan hidup dalam / menjadi kegembiraan dan harapan itu sendiri. Hidup dalam kegembiraan dan harapan adalah selalu melibatkan Tuhan di setiap setiap langkah hidup kita. Kita dapat mengaktualisasikannya melalui tindakan pelayanan kita kepada sesama. Salah satu contoh, selama menjalankan tugas pastoral beberapa kali saya mengunjungi orang sakit. Saya menjumpai beberapa dari mereka bersemangat untuk sembuh dan terus berharap pada Tuhan. Di sisi lain, ada pula dari mereka yang patah semangat, menyerah. Dalam hal inilah kita dipanggil untuk menjadi kegembiraan dan harapan bagi mereka yaitu dengan mendampingi, mendukung membantu dan mendoakan mereka sehingga mereka dapat menemukan Tuhan yang mencintai mereka. Dengan demikian, pertobatan yang sejati yaitu tumbuhnya suatu kekuatan baru, keterbukaan diri terhadap orang lain, peka terhadap kebutuhan dan problema orang lain, serta selalu siap untuk membantu, entah dalam hal-hal kecil sederhana maupun dalam hal-hal besar. Selamat menyiapkan hati dan diri kita. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin. (Fr. Paulus Roby Erlianto, CM)