KECAPLAH DAN LIHATLAH BETAPA BAIKNYA TUHAN
Kegembiraan Natal dan kemeriahan Tahun Baru rasanya masih terasa di hati kita dan kenangannya melekat di pikiran kita. Natal bagi diri saya pribadi yaitu niat untuk lahir kembali (natus est), membaharui diri, lahir dalam roh. Sehingga, terus berusaha menjadi pribadi yang mau mendengarkan Allah dan bersedia dipimpin oleh Allah. Usaha untuk membaharui diri ini tentunya juga menjadi niat kita di awal tahun baru ini. Kita tentu menghendaki perubahan atau transformasi diri ingin semakin baik dari hari ke hari. Hal ini mengingatkan kita akan seruan nabi Yesaya “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu” (lih. Yes 60:1). Dengan demikian, hendaklah kita berbuat dalam niat yang baik, menjadi terang yang penuh kasih dan pengampunan.
Ia adalah Yesus Kristus, Sang terang (ay.2). Sang terang yang membawa damai dan sukacita sehingga banyak orang mengikutiNya (bdk. ay.5 ; Luk 2:10). KebesaranNya terletak pada kerahimanNya, yang selalu memberikan pengampunan bagi siapa saja yang bertobat dan kembali kepadaNya. Ia ingin menjadikan semua manusia menjadi “ciptaan baru” (bdk. 2Kor 5:17).
Satu-satunya yang dibutuhkan untuk mengalami pengampunan adalah kesadaran bahwa Tuhan itu baik dan pemurah, dan bukanlah kesadaran akan dosa. Sebab, jika demikian orang akan merasa tertekan, tak berarti, lalu akan melihat figur Allah yang kejam, hakim penghukum. Hal yang paling berkenan bagi Tuhan bukanlah persembahan berlimpah melainkan hati yang remuk redam untuk bertobat dan membaharui diri. Marilah kita persembahkan diri kita, segenap kekuatan dan kelemahan diri, seraya memohon Tuhan menyempurnakan usaha mewujudkan niat-niat baik kita. “Kecaplah dan lihatlah betapa baiknya Tuhan”!. Berkah Dalem.