KEBIJAKAN TUHAN DALAM PROSES PERTOBATAN
Dalam Bacaan pertama Yes.43:16-21, Yesaya menggambarkan masa depan itu merupakan exodus baru, di mana Allah sendiri akan membangun umat untuk memuji Nya. Kenangan akan Pembuangan itu tidak perlu mematikan semangat. Yang penting sekarang adalah bagaimana menanggapi tawaran cinta kasih Allah secara konkrit.
Dalam Bacaan kedua Flp 3:8-14, diberikan suatu perbandingan antara pengalaman Paulus dahulu sebagai seorang Israel sejati, yang cukup fanatik dan pengalaman Paulus kemudian dengan situasinya yang baru sebagai seorang yang mengenal Kristus sebagai Anugerah Kasih Allah.
Pengenalan dengan Kristus mengubah seluruh hidup Paulus secara radikal. Kebanggaan masa lampau ditinggalkan dan ia rela mengisi hidupnya dengan Kristus, “oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Fil.3:8b). Bagi Paulus Kristus merupakan Nilai baru dalam hidupnya, maka kebanggaan masa lampau hidupnya ditinggalkanNya. Pengenalan nilai baru berkat Kristus yang bangkit merupakan pembaharuan hidup, “supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati. Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus (Fil.3:11-12).
Paulus menekankan bahwa keselamatan manusia adalah Anugerah Allah. Dan manusia harus berusaha. Namun usaha itu bukan untuk merebut keselamatan Allah, melainkan untuk mengungkapkan keterlibatan itu. Keselamatan manusia tetap tergantung pada janji Allah dan kesediaan manusia untuk menanggapi janji itu dalam iman. Kristus memang merupakan “krisis” bagi Paulus dan bagi orang kristen. Ia adalah batu penguji. Tidak cukup orang kristen hanya tahu dan mendapat informasi lengkap mengenai Kristus, tetapi Ia akhirnya masih harus berani bersekutu dengan Dia dalam salib untuk bersama Dia pula bangkit dari kematian dan kegagalan (lih.Flp 3:11-13).
Injil suci Yoh 8:1-11 menceriterakan bagaimana Yesus menghadapi orang yang mendapat kritik tajam dari para pengkritiknya. Yesus hanya memberikan pertanyaan : “barang siapa di antara kamu yang tidak berdosa, hendaklah dia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (Yoh 8:8). Yesus menunjukkan sikap apa yang harus dibangun sesuai dengan tuntutan keselamatan yang ditawarkan oleh Allah. Pertama2 harus bersih dan jujur dulu dengan diri sendiri, sedang sikap terhadap orang lain harus didasarkan pada kejujuran sendiri. Yesus tidak menghukum wanita pelacur itu,tetapi Ia mengajaknya berbuat baik dengan seruan :Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (Yoh 8:11). Kita melihat keluhuran pengampunan Tuhan bagi orang yang bertobat. Pengampunan sejati berarti menerima orang, juga kegagalan yang pernah dilakukan, beserta kesediaan untuk melaksanakan yang baik.
Romo J. Widajaka CM