arrow_back Kembali
Renungan 09 April 2016

KEBANGKITAN DAN PENGAMPUNAN

KEBANGKITAN DAN PENGAMPUNAN

Saudara, perhitungan dan logika akal budi tak dapat dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, ketika kita kurang bijaksana memakainya kita akan jatuh di dalamnya. Peristiwa “jatuh” ini dapat dicontohkan ketika kita hendak melakukan suatu kegiatan. Kita mulai memperhitungkan keuntungan maupun kerugian apa yang saya dapat.  Kita hanya mementingkan diri sendiri. Disamping itu, segala hal yang tidak sesuai dengan akal budi (pikiran) kita anggap tidak logis, tidak rasional. Terlebih untuk sesuatu hal yang tidak dapat ditangkap dengan panca indera kita tidak akan mudah mempercayainya. Begitu halnya yang terjadi dengan kisah pertobatan iman Tomas.
Dalam bacaan Injil Yohanes 20: 19-31, dikisahkan Tuhan Yesus menampakkan diri kepada para Murid. Adalah Tomas, salah seorang murid Yesus, seorang pemikir, rasionalis takkan mudah percaya begitu saja akan cerita burung atau gosip bahwa Tuhan telah bangkit. Tomas barangkali menertawakan para rasul lain yang dengan penuh semangat menceritakan pertemuan mereka dengan Yesus yang bangkit. Sebagai seorang ilmuwan sejati ia mengatakan, “sebelum aku melihat bekas paku......sekali-kali aku tidak akan percaya” (ay. 25). Tomas, jatuh dalam sebuah penilaian logisnya yaitu Allah harus dibuktikan melalui indera manusia. Delapan hari kemudian Yesus hadir kembali ditengah-tengah mereka. Saat itulah Tomas mendapat kesempatan untuk membuktikan bahwa Tuhan telah bangkit (ay.27). Tomas takluk seketika dan pertobatannya total ketika ia mengucapkan syahadat imannya “Ya Tuhanku dan Allahku” (ay.28). Ia mengalami pengampunan Tuhan yang Maharahim. Tuhan menegaskan pula kepadanya “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya (ay. 29).
Kisah Tomas ini merupakan sebuah fenomena kesombongan manusia yang ingin menonjolkan akal budi daripada peran Sang Ilahi dalam hidupnya. Terlalu rasional membuat manusia menjadi egois, tak mau berbagi dan berpikir tak membutuhkan orang lain. Padahal, manusia hidup dengan sesamanya. Ia harus mampu mendengar, berbagi rasa, dan belajar solider. Gereja Perdana di Yerusalem telah memperlihatkan bahwa kebersamaan adalah cara hidup yang baik. Jemaat Perdana tidak hanya membicarakan kebersamaan dan kasih, tetapi lebih dari itu, “Adapun kumpulan orang-orang yang telah percaya itu sehati dan sejiwa. Segala yang mereka miliki menjadi milik bersama” (Kis. 4:32).
Bagaimana dengan diri kita: bagaimana anda memaknai kebangkitan Tuhan? masihkah anda memelihara egois dan kesombongan diri? Maukah kita mewujudkan pertobatan kita seperti rasionalitas kebersamaan Jemaat Perdana?. (Frater).