arrow_back Kembali
Renungan 07 October 2017

KEANGKUHAN HATI MANUSIA

    KEANGKUHAN HATI MANUSIA

 
"Kerusakan dan kejahatan moral" berakar pada keangkuhan hati manusia. Manusia yang angkuh hatinya selalu merasa dirinya benar. Sikap inilah yang dimiliki para imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. Mereka selalu menjadi lawan Yesus karena keahlian mereka mematikan hati nurani dan membelokkan lidah mereka untuk mengucapkan kebohongan. Mereka mempunyai hobby untuk memanfaatkan keluguan umat beriman serta sabda Tuhan untuk ke-pentingan dirinya. Mereka malah bertobat dari kesalehannya dan berubah menjadi jahat, persis seperti yang dikatakan oleh nabi Yehezkiel: "... orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan sehingga ia mati ... " (Yeh.18:27) Kemunafikan mereka ini sedemikian hebat sehingga Yesus memandang mereka lebih rendah daripada pemungut cukai dan para pelacur, yakni dua kelompok pendosa berat di kalangan masyarakat Yahudi di zaman Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan para pelacur akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah" (Mat.21:31) Sebab mereka secara sadar dan tahu akan hal yang baik namun tidak melakukannya dan sebaliknya mereka mengetahui yang jahat namun tetap melakukannya dan tidak berusaha menghindarinya. Di sinilah terjadi kemerosotan moral karena mereka tidak mampu lagi membedakan apa yang baik dan yang jahat. Bertrand Russel pernah mengatakan : "Tanpa moralitas umum maka masyarakat akan binasa dan tanpa moralitas personal kehidupan adalah tanpa arti!" Moralitas itu berhubungan dengan kemampuan untuk membedakan apa yang baik dan apa yang jahat. Bila orang sadar bahwa sesuatu itu baik, maka secara moral ia wajib untuk melaku-kannya dan sebaliknya bila ia sadar bahwa sesuatu itu buruk dan jahat, maka ia pun wajib untuk tidak melakukannya. Demikian pula dengan hidup beriman.
Hidup beriman memang bukan ideologi, melainkan sebuah tingkah laku, sikap dan tindakan. Kerajaan Allah tidak bisa dilayani hanya dengan omongan. Kerajaan itu dibangun dengan kemauan dan kerja keras, yakni melibatkan diri sepenuhnya pada kehendak Allah; bagaimana kehendak dan rencana Allah mesti dijelmakan dalam kehidupan. Kesaksian iman sangat penting! Oleh karena itu kita sebagai orang beriman kristiani diajak untuk menyatakan 'ya' secara penuh dalam kehidupan iman, artinya jadilah 'anak ketiga' yang berani mengatakan 'ya' dan sekaligus melaksanakan! Miliki integritas kristiani sejati.
Saudaraku, apa upaya Anda agar kehidupan iman benar-benar terpancar secara penuh dalam seluruh laku, tindakan dan sikap hidup Anda? (Hd.)