KEADILAN TUHAN
Tidak jarang dalam hidup ini kita merasa Allah berlaku tidak adil pada diri kita. Kita merasa bahwa segala kebaikan yang telah kita tabur tidak selamanya menghasilkan kebaikan bagi kita. Ternyata, kebijaksanaan hidup “tabur tuai” tidak selalu terjadi demikian. Kita marah. Kita kecewa. Kita merasa Allah tidak adil. Dan ujungnya kita tak merasa damai dan bahagia.
Persoalan yang sama kita dengar dalam bacaan Injil hari ini. Tuhan Yesus memberikan perumpamaan mengenai Kerajaan Allah. Menurut-Nya, hal Kerajaan Allah itu seperti pemilik kebun anggur yang sedang mencari pekerja untuk kebun anggurnya. Ia keluar pagi-pagi benar, pukul sembilan, pukul dua belas, pukul tiga sore dan pukul lima sore. Mengapa sampai lima kali pemilik kebun anggur ini mencari pekerja dan mengapa juga sudah jam lima sore pemilik kebun ini tetap mencari pekerja? Teks tidak berbicara apa-apa. Mungkin pertanyaan itu tidak terlalu penting untuk dijawab.
Ia pun membuat kesepakatan dengan para pekerja itu. Mereka akan mendapatkan upah yang layak. Maka berangkatlah kelima gelombang pekerja itu ke dalam kebun anggur. Akhirnya, senja mulai tiba, pertanda pekerjaan hari itu telah usai.
Dipanggilnyalah pekerja gelombang terakhir. Mereka diberi satu dinar. Suara kasak-kusuk sudah mulai terdengar di antara mereka. Mereka yang datang sebelum gelombang terakhir ini yakin akan mendapatkan upah lebih banyak dari pada setelah mereka. Namun apa yang mereka dapatkan? Mereka mendapatkan upah yang sama. Maka, mulailah mereka bersungut-sungut. Mereka merasa tuannya berlaku tidak adil.
Mungkin, kita pun juga merasa bahwa tuan ini tidak adil. Sama sekali tidak adil. Bagaimana bisa orang yang datang terlebih dahulu mendapatkan upah yang sama dengan mereka yang datang kemudian? Sekalipun mereka sudah membuat kesepakatan di awal, bukankah tetap saja tuan ini tidak adil? Mungkin pertanyaan ini bukan hanya terlintas dalam benak kita tapi juga lahir dari pengalaman kehidupan kita. Kita merasa bahwa Tuhan juga pernah berlaku tidak adil pada diri kita. Atas aneka kebaikan yang sudah kita lakukan, atas ketaatan yang sudah kita berikan seutuhnya kepada-Nya. Namun...
Pemilik kebun itu adil. Ia sangat adil. Ia sama sekali tidak berbuat curang kepada para pekerjanya. Begitu halnya dengan Tuhan. Suatu kali pernah muncul di dalam surat kabar berita mengenai seorang sarjana bunuh diri. Dia frustrasi lantaran sudah beberapa bulan tak kunjung jua mendapatkan pekerjaan. Masihkah pada tahap ini kita masih merasa tuan itu tidak adil?
Pekerja gelombang pertama tidak perlu sampai bunuh diri karena ia belum mendapatkan pekerjaan. Mereka sudah mendapatkan kepastian bahwa ia akan bisa memberi makan keluarganya hari itu. Sementara yang datang di akhir, ia pun berharap-harap cemas, akankan upah bekerja satu jam cukup untuk memberi makan keluarganya hari itu? Ternyata Tuan itu adil. Kepada gelombang pertama ia memberikan kepastian, kepada gelombang kedua ia memberikan upah yang “layak”.
Tidak jarang keadilan Allah hanya kita ukur dalam satu takaran saja. Logika kita sendiri. Materi. Dan ketika keadilan Allah berbenturan dengan logika kita, kita merasa Allah tidak adil. Maka menjadi benar seutuhnya apa yang dikatakan Tuhan Yesus di akhir bacaan Injil hari ini, “Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir” (ay. 16).
Kita hanya akan menjadi yang “terakhir” dalam Kerajaan Surga manakala kita melihat keadilan Allah hanya menurut kacamata kita sendiri. Terakhir bukan dalam arti urutan, melainkan besarnya sukacita yang kita peroleh. Kita di urutan terakhir lantaran kita lupa akan aneka rahmat dan kepastian yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Lupa karena tertutup rasa iri hati kita.
(Johan, CM)