arrow_back Kembali
Renungan 21 March 2017

KASIH-MENGASIHI

KASIH-MENGASIHI

       
Kasih, mengasihi. Kata-kata yang kerap kita dengarkan dalam hidup sehari-hari. Kerap diucapkan oleh banyak orang. Kerap ditulis dalam rangkaian kata-kata yang menarik. Sering dilagukan dengan nada-nada yang romantis. Kasih menjadi pewarna bagi hidup yang kadang tampak hitam putih.
Beberapa hari yang lalu terjadi peristiwa yang menarik. Hari Valentine. Dalam benak banyak orang, valentine adalah hari raya untuk berbagi kasih. Lantas tak mengherankan bila pada hari valentine ada banyak pihak yang berusaha mengungkapkan cintanya kepada orang-orang yang dicintainya. Ungkapan tersebut terwujud lewat kado, coklat, bunga, puisi, dan pelbagai tanda cinta yang lain.
Tentu tiap pribadi memaknai hari Valentine secara berbeda. Sebagian besar memaknainya sebatas kasih sayang kepada pasangan ataupun calon pasangan. Satu hal yang menjadi kesamaan ialah penghargaan manusia nilai kasih. Kasih, cinta-mencintai tetap merupakan bagian yang paling penting dalam hidup di dunia. Hal ini menunjukkan bahwa mencintai orang lain di luar pribadiku, merupakan suatu kebutuhan dasariah. Namun satu hal yang perlu dicermati, tiap orang cenderung hanya mencintai orang-orang yang layak untuk dicintai. Yang baik kepadaku, yang cantik, yang tampan, yang kaya, yang bersih, dan lain-lain. Cinta tidak diarahkan kepada orang lain yang berada diluar kriteria tersebut. Namun Tuhan Yesus mempertanyakan bentuk kasih yang seperti itu. “apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?” (Mat 5:46)
Hari ini kita diingatkan untuk mencintai semua orang. Mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri (Bdk. Imamat 19:18). Tentu tidaklah mudah mencintai orang lain seperti mencintai diri kita sendiri. Karena keluar dari diri sendiri bukanlah sesuatu yang mudah. Mencintai diri sendiri sudah menjadi bawaan sejak lahir. Namun untuk menjadikannya standar ketika mengasihi dan mencintai orang lain, kerapkali kita menemukan banyak kesulitan. Pertanyaannya adalah: “sudahkah aku melihat sesamaku sebagai pribadi yang layak untuk dicintai?”
Tuhan Yesus mengajak kita untuk mencintai orang lain secara mendalam, tak pandang bulu, rela berkorban, tak menuntut balas, total, atau lebih dikenal sebagai agape. Bagi banyak orang tentu kasih yang semacam ini adalah kasih yang terlalu ideal. Pertama-tama bukan karena hal itu tidak mungkin diwujudkan, namun lebih karena banyak orang sudah merasa mapan dengan cinta yang dihidupinya selama ini, baik itu eros ataupun philia. Tuhan Yesus menunjukkan kasih yang benar-benar mengagumkan. Tidak cukup mencintai diri sendiri, ataupun mencintai orang lain yang kita anggap layak untuk dicintai. Tuhan Yesus meminta untuk mengasihi semua orang, bahkan mereka yang kita benci,: “kasihilah musuh-musuhmu, dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5:44). Kita bisa melihat bahwa di dalam kasih tersebut tidak hanya terdapat kemauan untuk memaafkan ataupun mengampuni, namun juga mengharapkan sesuatu yang baik terjadi pada orang yang kita kasihi.(Frater)