JAWABAN 'YA'
Berapa banyak orang menimbang-nimbang dan tidak berani mengatakan “Ya” untuk sesuatu yang mulia. Berapa hal besar terjadi karena orang berani mengatakan “ya” dan melakukannya. Maria telah mengatakan ya untuk mengandung putra Tuhan sendiri. Ia mengatakan, terjadilah padaku menurut perkataanMu. Karenanya peristiwa keselamatan itu terjadi.
Kita masih memikirkan aneka alasan untuk bisa melakukan hal baik, bahkan membeber aneka alasan untuk berhati-hati. Maria menghadapi resiko berat. Ia hanya melakukan perbuatan “konyol” ini karena ia tahu bahwa jaminannya adalah Tuhan sendiri, karena itu dengan rendah hati ia mempersembahkan diri dan seluruh resikonya demi kemuliaan Tuhan. “Aku ini hamba Tuhan”, demikian dikatakannya, maka dipenuhilah perutusan mulia itu.
Perayaan Maria Diangkat Ke Surga yang sebenarnya jatuh pada tanggal 15 Agustus dirayakan hari Minggu ini agar semakin banyak umat merakannya dengan penuh sukacita. Kita merayakan dogma Maria yang diangkat jiwa raganya, untuk dimuliakan Tuhan. Bagi hati yang gundah tentu ada banyak pertanyaan mengapa ia harus di anugerahi pemuliaan seperti itu. Tetapi bagi hati yang bersahaja dan terbuka pasti akan dengan sukacita mensyukuri kesempatan untuk merayakan tokoh agung, teladan iman, dan abdi Tuhan yang “humble” ini.
Pemahaman itu tak jauh dari kenyataan sejarah bahwa meskipun iman akan Maria diangkat ke surga sudah diajarkan dan diyakini umat sejak abad ke-4, tetapi baru tahun 1950 dogma ini di promulgasikan. Setelah manusia menolak hal-hal yang keramat, mencoba mengandalkan logika manusia, akhirnya manusia juga mengalami banyak kebuntuan untuk menafsirkan pahitnya perang dunia I dan II. Akhirnya para pemikir kristiani, mulai melirik sisi keramat manusia, dan mengakui keagungan Maria yang secara gaib menjadi Ibu Tuhan, di luar kesanggupan logika manusia.
Perayaan ini juga menjadi perayaan pemulihan. Secara teologis, perempuan pertama (Hawa) telah diusir Tuhan karena dosanya, kini perempuan kedua (Maria) diangkat Tuhan kembali ke Firdaus, dan menjadi perantara kita semua untuk memasuki Firdaus. Rm. Haryanto Almarhum, pakar Kitab Suci, pernah mengajak kita untuk membayangkan apa yang tak tertulis dalam Kitab Suci, bagaimana perasaan kesepian Allah setelah ditinggalkan manusia, bagaimana perasaan segala makhluk Firdaus setelah kehilangan penghuni istimewanya. Maria, ia menjadi figur perjalanan kembalinya manusia ke taman abadi itu. Ia telah menjadi pemulih semarak hati Allah dan seluruh alam isi Firdaus. Ia telah menjadi model dari setiap manusia yang pulang ke tanah air surgawi. Betapa indahnya perjalanan keselamatan ini.
Kini tantangan kita, untuk membuat perayaan Pengangkatan Maria ini menjadi roh kehidupan sehari-hari. Kita perlu melihat mekanisme batin kita untuk menyanggupi setiap tawaran Allah. Apakah kita masih terlalu banyak bernegosiasi dengan mengandalkan logika kita? Apakah kehendak Allah menjadi panggilan kita? Apakah keberadaan kita di hadapan Allah dan jaminan-jaminanNya memampukan kita untuk mengatakan “Aku ini hamba Tuhan.” Hidup adalah latihan rohani panjang. Semoga hati, pikiran, dan kehendak kita selalu selaras menyatu dengan hati, pikiran, dan kehendak Allah. Tandanya jelas, ketika kita mengatakan “YA” pada tawaran Allah. (Rm. Ignatius Suparno, CM.)