JALAN KEKUDUSAN
Dalam Injil Matius hari ini Yesus berkata: “Kasihilah sesamamu manusia, dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (ay.44). Yesus mengingatkan kita akan perintah kasih yang di dalam Perjanjian Lama pun sudah kita dengar dari Bacaan I hari ini (Kitab Imamat). Dan dalam Bacaan II Paulus menegaskan, bahwa kita di dalam Kristus adalah Bait Allah. “Kamu adalah milik Kristus, dan Kristus adalah milik Allah” (ay.23). Perintah Yesus supaya kita harus saling mengasihi, juga berlaku bagi musuh-musuh kita sekarang ini, bahkan sungguh relevan dan urgen, bukan hanya di dalam keluarga atau komunitas, tetapi di dalam seluruh masyarakat, seperti kita lihat dalam kerusuhan dan kekerasan berbau “SARA” dewasa ini. Mari kita memaknai perintah kasih tanpa batas yang diberikan Yesus kepada kita.
Mengacu pada perintah kasih Yesus yang menunjuk Kitab Imamat (Bacaan I), yaitu kasih yang berlandasan pada kekudusan atau kesucian . “Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan Allahmu, kudus. Janganlah membenci saudaramu. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Akulah Allah” (Im 19:2.18). Di sini tampaklah tujuan sejati setiap manusia, sebagai ciptaan Allah : manusia dipanggil menjadi kudus .
Intisari tujuan hidup manusia sejati, sejak di dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, yang harus terus berlaku di dalam Gereja yang didirikan oleh Kristus sampai akhir zaman, ialah kekudusan. Seperti tertulis dalam Kitab Suci, manusia diciptakan menurut citra Allah. Karena Allah adalah kudus, maka manusia juga harus kudus. Segenap hidupnya harus merupakan gambaran dan menjadi alat untuk menampakkan kekudusan ilahi itu. Kekudusan Allah itu sabda Allah yang hadir dalam hati kita bagaikan api yang harus selalu menyala . Api sabda Allah itulah yang harus menghancurkan kejahatan dalam diri kita dalam segala bentuknya! Api sabda Allah inilah yang mengubah cara dan daya pikiran, sikap dan perbuatan (mindset and attitude) kita.
Allah yang kudus inilah yang karena kasih-Nya menciptakan kita. Ternyata kasih Allah itulah yang merupakan kekudusan-Nya . Maka kekudusan-Nya inilah pula yang harus menjiwai seluruh hubungan kita dengan sesama: dalam keluarga, di bidang hidup dan tugas kita masing-masing. Dengan berbuat baik kepada sesama atas dasar kasih seperti Allah itulah kita mengambil bagian dari kekudusan-Nya . Sebaliknya, tidak mungkin kita menjadi kudus, tidak mungkin kita serupa dengan Allah Pencipta kita, kalau kita tidak mengasihi sesama, siapapun juga. Bahkan dengan ibadat, banyak berdoa, rajin mengikuti perayaan Ekaristi, mengadakan ziarah ke mana pun juga, kita tidak menjadi kudus, apabila semua itu tidak timbul dan dilaksanakan karena dan dengan kasih.
Terutama akhir-akhir ini di dalam masyarakat kita di Indonesia terjadilah banyak kerusuhan dan kekerasan di antara pelbagai kelompok atau golongan, bahkan karena hal-hal yang bersangkutan dengan agama. Banyak orang menjadi korban. Dapat disebut juga masalah besar yang harus diatasi di kalangan orang-orang atau badan-badan/lembaga-lembaga resmi Pemerintah, yaitu masalah korupsi. Masih banyak hal lain lagi yang harus menyadarkan kita semua, bahwa semuanya itu pada dasarnya disebabkan oleh tidak atau belum adanya hubungan antara manusia dengan Allah sebagai semestinya. Ternyata setiap agama yang hanya bercorak resmi, dan apapun macam atau bentuknya, tetapi tidak dihayati ajarannya dengan benar, tidak akan membawa kita ke dalam hubungan yang benar dan baik dengan Allah.
Kekurangan dasar yang menyebabkannya ialah karena kita tidak sadar, bahwa kita harus menjadi kudus, menjadi suci . Artinya: karena kita tidak serius dalam usaha menjadi kudus seperti dikehendaki Allah sendiri. Padahal seperti diajarkan dalam Kitab Suci, kekudusan kristiani sejati harus terungkap di dalam kesungguhan kasih kita kepada Allah sekaligus kepada sesama . Kesungguhan kekudusan kita sebagai orang kristen harus dan hanya otentik, apabila segenap sikap dan penghayatan hidup kita terungkap dalam sikap dan pelaksanaan kasih.
Saudaraku, kekerasan, kebencian, rasa dendam, tak sudi memaafkan atau mengampuni, bahkan perbuatan yang tampaknya baik, seperti memberi derma, bahkan banyak berdoa dan beribadat, - semua itu bukan merupakan tanda kekudusan, apabila tidak timbul dan dilakukan atas dorongan kasih sejati. Bukan banyaknya doa lahiriah maupun jumlah derma materiil dipakai Tuhan sebagai ukuran kesungguhan kasih kita sebagai orang yang kudus! Hanya hati yang kudus akan sungguh mengasihi dan memberikan derma ataupun bantuan, yang berkenan kepada-Nya. Kasih yang kudus merupakan senjata kita paling berdaya untuk mengatasi segala kesulitan. “Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan Allahmu, kudus!”. Amin