arrow_back Kembali
Renungan 13 July 2015

ISTIRAHAT

Manusia seringkali melihat, mendengar dan melakukan berbagai hal, kecuali satu yang terpenting: mendengarkan suara Tuhan. Kelalaian ini sering dilakukan oleh orang  yang sibuk bekerja, bahkan oleh orang yang tugasnya mewartakan sabda Tuhan, orang-orang  yang  sehari-harinya ada di tempat kudus. Inilah juga yang dilalaikan oleh Amazia imam di Betel(=rumah Allah) dan teman-temannya yang merasa bangga melayani tempat kudus raja dan bait suci kerajaan, namun lalai untuk mendengarkan suara Tuhan. Karena itu Tuhan memanggil Amos, seorang peternak dan pemungut buah hutan yang dalam keheningan mau mendengarkan suara Tuhan, untuk menjadi pewarta sabdaNya.

Apa artinya sabda ini bagi kita orang-orang sibuk bekerja? Termasuk bagi kita yang seringkali sibuk melayani dalam kegiatan menggereja? Kita disentak, digugah, disadarkan untuk tidak pernah lalai mendengarkan suara Tuhan dalam hidup kita sehari-hari. Kesibukan mencari nafkah, ataupun bahkan kesibukan melayani dalam kegiatan menggereja tak pernah boleh membuat kita lalai untuk mendengarkan suara Tuhan agar kita sungguh tahu apa yang dikehendaki Tuhan, yang sungguh-sungguh perlu dilakukan untuk keselamatan umat manusia.

Itulah sebabnya mengapa Yesus mengajak murid-muridNya untuk tahu beristirahat. Istirahat dibutuhkan agar kita dapat mengambil jarak dan menilai apa yang kita lakukan sehari-hari, sudah baik dan benar atau malah keliru. Kita mau kerja keras untuk keluarga, tapi kita malah tak punya waktu untuk keluarga kita. Kita mau melayani untuk Tuhan, tapi kita malah tak punya waktu untuk mendengarkan Tuhan. Seringkali suara Tuhan tertutupi oleh kesibukan kita, rencana-rencana kita. Kita tidak peka ketika Tuhan hadir dalam sesama yang membutuhkan, kurang sabar terhadap mereka. Saat itulah seringkali tempat kerja, rumahtangga, lingkungan kita tak lagi menyenangkan karena ketegangan, konflik, saling dengki dan irihati dari orang-orang  yang  kehilangan kasih dan membutuhkan pengakuan.

Dalam istirahat pertama-tama kita mau mendengarkan suara Tuhan yang  selalu mengakui, menerima, dan mengasihi kita: “Engkaulah anakKu yang terkasih, kepadamu Aku berkenan” . Mendengarkan suara Tuhan ini sungguh mendamaikan dan melegakan kita. Kita tak lagi berebut perhatian dan kasih, karena Allah Bapa kita itu sudah mengasihi kita. Lalu kita siap untuk diutus oleh Bapa untuk peka dan tanggap kepada orang-orang sekitar kita, anggota keluarga, rekan kerja, teman untuk menyatakan kasih Bapa itu secara nyata.(sadbudi cm)