IMAN YANG BERPROSES
Hidup dalam iman merupakan suatu harta yang berharga bagi orang beriman. Dalam bacaan pertama minggu ini, Nabi Habakuk menggambarkan kehidupan beriman sebagai suatu fenomena pergumulan hidup. Adanya penindasan, kejahatan, kelaliman, aniaya, kekerasan, perbantahan serta pertikaian menjadi fakta yang diajukan Habakuk untuk mempertanyakan campurtangan dan pertolongan Tuhan. Selanjutnya dalam Injil dikisahkan bahwa pergumulan iman juga dialami oleh para rasul, para murid Yesus. “Tuhan, tambahkanlah iman kami!” suatu permohonan besar yang diajukan oleh para murid kepada Yesus. Para murid menunjukkan bahwa mereka mendambakan suatu iman yang semakin kokoh, matang dan berkualitas. Para murid memandang bahwa Yesuslah yang dapat menambah iman mereka. Sampai disini, beriman tentu bukanlah suatu proses yang berhenti, jadi dan selesai. Beriman adalah proses yang terus berjalan dan mencari kepenuhan ataupun kedalamannya.
Habakuk menghubungkan secara emosional persoalan yang terjadi disekitarnya dengan peran dan kehendak Tuhan. Sungguhkah Tuhan menghendaki pelbagai persoalan tetap terjadi disaat manusia telah sedemikian gigih meminta pertolongan? Iman Habakuk sampai pada tahap yang dalam. Iman yang bertanya, tidak berhenti berproses. Iman yang diliputi kegundahan hati atas realita pelik yang terjadi disekitarnya.
Pengalaman yang dialami oleh Habakuk kerap dialami oleh manusia jaman ini. Adanya berbagai tindak kejahatan, kekerasan, penindasan, korupsi, dan lain sebagainya menjadi medan permenungan untuk mempertanyakan kehendak Tuhan atas manusia. Suatu kali bahkan ada seseorang mengatakan “bila Tuhan itu baik, mengapa kejahatan tetap ada?”. Suatu pertanyaan yang rumit untuk dijawab. Namun satu momen yang baik bahwa sesungguhnya dalam menghayati iman; beriman pada Tuhan, tidak dapat dilepaskan dari realita hidup sehari-hari. Justru dengan adanya fenomena sosial yang ada dalam masyarakat, orang beriman ditantang untuk semakin memberi ruang bagi Tuhan untuk merajai hatinya masing-masing. Bila terjadi demikian, maka tiap orang beriman akan selalu didorong untuk mengusahakan dan mengutamakan terjadinya hal-hal baik dalam hidupnya sendiri dan hidup sesamanya.
Paulus, seorang rasul besar menekankan bahwa beriman perlu diwujudnyatakan dalam bentuk kesaksian,: “Janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita...”. sebuah nasihat yang relevan untuk masa kini. Masa dimana bersaksi, menjadi pewarta Kristus bukanlah hal yang mudah. Dalam konteks hidup sehari-hari, semangat untuk bersaksi kerap terkalahkan oleh semangat-semangat yang lain. Egoisme, individualisme, materialisme, dan pelbagai isme-isme yang lain. Hanya orang benar yang hidup oleh imannya. Pada akhirnya, beriman adalah suatu proses pergumulan hidup yang akan semakin terasah bila diuji oleh kenyataan-kenyataan yang ada. Iman semakin mendalam bila dijiwai semangat untuk bersaksi. Bersaksi sebagaimana hamba-hamba yang melakukannya untuk Tuhan dengan rendah hati. Tentu tidak harus dimulai dengan hal-hal yang besar dan luar biasa, tetapi dapat dari hal-hal kecil ataupun lingkup yang kecil, seperti keluarga, lingkungan, wilayah, hingga lingkup yang lebih besar. (fr.ayub dwi winar)