arrow_back Kembali
Ruang Katekese 28 June 2015

IMAN YANG BENAR

     Injil menurut Markus pada hari Minggu Biasa XII (Markus 5:21-43) berceritera mukjijat tentang penyembuhan pendarahan seorang perempuan selama 12 tahun ini diceriterakan dalam dua Injil lain: oleh Matius (9:20-22) dan Lukas (8:43-48). Kekuasaan Yesus untuk mengadakan mukjizat apapun bentuknya, sangat erat hubungannya dengan peranan kepercayaan kita kepada Yesus dalam menghayati hidup kita pribadi, maupun dalam hubungan kita dengan sesama. Bukan sekadar suatu iman yang formal-resmi, melainkan iman yang benar dan menjiwai hidup kita.

Orang perempuan yang menderita penyakit yang resmi najis (Im 15:25-27). Ia tersingkir dari hubungan dengan masyarakat maupun dengan ibadat di bait Allah. Perempuan ini sangat mengharapkan disembuhkan oleh Yesus, meskipun ia tahu bahwa akibatnya Yesus pun akan dianggap menjadi najis menurut hukum. Bukan hanya orang yang terkena penyakit itu menjadi najis, melainkan siapapun yang berhubungan dengan penyakit itu juga menjadi najis. Ia diasingkan dari pergaulan dengan sesama manusia, bahkan juga dalam hubungannya dengan Allah. Apa saja yang tidak bersih atau najis tidak pantas berada di hadapan Allah, sebab Allah adalah kudus. Maka siapapun yang kotor, tidak murni, najis, harus mengalami suatu pembersihan, pemurnian, untuk memasuki masyarakat dan berhadapan dengan Allah.

Tetapi di tengah tatasusunan masyarakat Yahudi legalistis serupa itu, si orang perempuan itu berani mendekati Yesus dan menjamah jubah-Nya. Pasti Yesus pun akan terkena hukuman menjadi najis. Justru sebaliknya! Yesus bukan hanya menyembuhkan perempuan  itu, Ia juga mengembalikan hubungan perempuan itu dengan lingkungan masyarakat sesama. Ia bahkan menyapa perempuan itu dengan berkata: “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau”. Ucapan Yesus itu mengembalikan hubungannya dengan sesama dalam masyarakat, tetapi juga dengan Dia sendiri.

Di samping itu Yesus dikunjungi Jairus, seorang “kepala rumah ibadat”. Sementara banyak  pemimpin rumah ibadat Yahudi curiga dan menentang Yesus, Yairus ini justru datang kepada Yesus dan “tersungkurlah ia di depan kaki-Nya”. Apa yang dilakukannya itu mengungkapkan suatu sikap berani dan hormat kepada Yesus. Ia mohon: “Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup”. Dan ketika datang di rumahnya Yesus memegang tangan anak itu dan berkata “Talita kum“, artinya “Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!”. Anak itu bangkit berdiri dan berjalan. Dengan menyapa “Hai anak”, Yesus mengadakan dan memperkuat hubungan-Nya dengan anak itu seperti dilakukan oleh Yairus sendiri terhadap anaknya itu.

Dalam dua peristiwa itu, yakni penyembuhan perempuan yang menderita pendarahan dan pembangkitan anak perempuan yang mati, Yesus yang sungguh suci itu menyingkirkan kenajisan/kekotoran manusia. Perempuan dewasa itu disembuhkan, anak perempuan kecil yang mati dihidupkan kembali. Yesus mengembalikan dan mengangkat kembali setiap pribadi kepada tingkat aslinya, sebagai pribadi yang hidup layak di hadapan Allah.

Di zaman kita sekarang ini kota-kota besar sepintas lalu tampak makin maju, modern, makin dibangun gedung-gedung pencakar langit. Didirikan daerah kediaman yang mewah, dengan jalan-jalan penuh kendaraan aneka model, dengan segala fasilitasnya. Tetapi di samping semuanya itu tampak pula keadaan lain, bagaikan “perempuan yang sudah lama menderita pendarahan”, “anak yang hampir atau sudah mati”. Mereka itu adalah orang-orang yang harus ditolong dan diselamatkan, tetapi justru disingkirkan karena dianggap akan menganggu masyarakat yang sudah maju dan makmur. Mereka itu adalah saudara sesama kita, yang semartabat seperti kita  di depan Allah, tetapi belum mampu  hidup secara layak dan mencukupi. Anak kecil perempuan itu adalah juga gambaran banyak kaum muda, yang sekarang ini belum terjamin haknya untuk bersekolah dan dididik. Banyak yang menghadapi arus narkoba, dan banyak pula yang tidak mempunyai harapan akan masa depan yang pasti.

Saudaraku, bila Anda sungguh ingin hidup sebagai   orang beriman sejati, Anda harus memiliki iman sekuat iman perempuan yang menderita itu, tetapi juga sungguh memperhatikan nasib sesama Anda seperti Yairus. Anda hanya sungguh beriman, apabila Anda berbuat sesuai dengan iman. Iman akan Kristus yang benar berarti berani mohon apapun, tetapi juga mau dan rela melakukan apapun sesuai dengan kehendak Kristus. Relakah Anda melakukan apapun sesuai dengan kehendak Kristus? Tuhan memberkati. (Hd)