arrow_back Kembali
Renungan 22 February 2017

HIDUP UNTUK HIDUP!

HIDUP UNTUK HIDUP!

Setiap orang menerima anugerah istimewa dari Tuhan, yakni anugerah hidup. Tiap pribadi yang hadir di dunia diberi kesempatan oleh Tuhan untuk memiliki dan menikmati anugerah tersebut. Sebagai bentuk menghargai hidup, tiap orang berusaha menata dan membangun hidup sedemikian rupa. Hari-hari diisi dengan kerja keras, kedisiplinan, keteraturan, komitmen serta optimisme yang tinggi. Itu semua dilakukan demi mencapai suatu kebahagiaan hidup.
Manusia tak cukup puas atas pelbagai ukuran umum yang selama ini menggema ditengah masyarakat, bahwa bahagia itu hidup sederhana, hidup sehat, keluarga harmonis ataupun tidak berhutang. Hidup yang bahagia diukur atas tercapainya kesuksesan dalam berkarir, dalam membangun reputasi, dalam membangun kekayaan dan lain sebagainya. Sampai disini muncul pertanyaan, apakah arti hidup manusia? Apakah hidup hanya dimaksudkan untuk mencapai pemenuhan-pemnuhan pelbagai ukuran yang dimiliki manusia? Bukankah manusia akan mati?.
 Dalam Kitab kedua Makabe ditampilkan kisah heroik tujuh orang bersaudara yang rela mati demi mentaati perintah Tuhan yang dipegang teguh oleh nenek moyang mereka. Dalam hal ini, hidup dimaknai sebagai suatu pemberian Tuhan, yang juga harus dijalani sebagai bentuk ketaatan pada Tuhan dan perintah-perintahNya. Sekalipun harus mati karena taat kepada Tuhan, mereka percaya bahwa akan dibangkitkan, akan hidup lagi (2 Makabe 7:14). Kematian tidak dapat membunuh harapan mereka akan hidup kekal!.
Sementara dalam bacaan Injil dikisahkan mengenai orang-orang Saduki yang bersoal jawab dengan Yesus mengenai identitas perkawinan seorang perempuan yang ditinggal mati berturut-turut oleh tujuh orang suaminya. Bagi Yesus, orang yang layak mendapat bagian dalam dunia lain dan dalam kebangkitan dari antara orang mati tidak kawin dan dikawinkan. Mereka telah dibangkitkan menjadi anak-anak Allah. Mereka hidup bersama Allah. Sebab dihadapan Dia semua orang hidup (Luk. 20:38).
Manusia kerap mengalami pergulatan yang sama dengan yang dialami oleh Orang Saduki. Mempertanyakan pelbagai hal dengan ukuran yang digunakan oleh manusia. Menganggap bahwa hidup akan selesai begitu kematian tiba. Namun lupa bahwa hidup di dunia bukanlah hidup yang sesungguhnya. Kematian di dunia bukan akhir dari hidup yang sesungguhnya. Ada kehidupan lain. Kehidupan bagi mereka yang dianggap layak untuk ambil bagian didalamnya.
Tiap orang beriman diajak untuk belajar memaknai arti hidupnya masing-masing. Hidup bukan semata-mata dijalankan demi hidup di dunia ini. Karena bila demikian, hidup akan berakhir saat kematian tiba. Namun hidup untuk hidup. Yakni menjalani hidup di dunia demi kehidupan kekal.
Lantas bagaimanakah seharusnya menjalani kehidupan? Rasul Paulus melalui suratnya kepada jemaat di Tesalonika mengingatkan,” Tuhan adalah Setia. Ia akan menguatkan hatimu dan akan memelihara kamu terhadap segala yang jahat.” (2 Tes 3:3). Hal ini mengingatkan bahwa hidup adalah milik Tuhan. Tuhanlah yang senantiasa menopang dan melindungi kita. Dengan demikian kita diajak untuk hidup di dalam Tuhan; senantiasa mengarahkan hati kepada kasih Allah dan kepada ketabahan Kristus (2 Tes 3:5). (fr. ayub dwi winar, cm)