HIDUP 'SANGKULI'
Saat Yesus menyatakan: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.”(Mrk. 8:31) Sulit bagi Petrus untuk memahaminya; maka Petrus langsung bereaksi dengan menarik Yesus ke samping dan menegur-Nya. Reaksi Petrus mewakili ketidakpahaman para murid bahkan semua orang Yahudi mengenai citra Mesias yang diwahyukan oleh Yesus. Dengan sangat tegas Yesus memarahi Petrus, “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Dapat dibayangkan betapa terkejutnya para murid menyaksikan kemarahan Yesus. Gambaran Mesias yang penuh kuasa, kekuatan, kemuliaan duniawi, kudus dan menjadi utusan Allah seperti yang selama ini mereka idolakan ternyata disebut sebagai “pemikiran manusia”. Bahkan Yesus menegur Petrus dan menyebutnya Iblis. Yesus tidak menolak sebutan Mesias bagi diri-Nya. Namun ada satu aspek dari Mesianitas Yesus yang tidak mudah dimengerti karena mengandung sejumlah ironi. Ironi tersebut adalah citra Mesias yang menderita, ditolak dan dibunuh oleh para tokoh agama. Bagaimana mungkin Sang Mesias yang menjadi utusan Allah ditolak oleh tokoh-tokoh agama?
Yesus berkata kepada para muridNya: ”Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya”(Mrk. 8:34-35). Inilah persembahan diri secara total sebagai pengikutNya.
Adapun tiga tuntutan kemuridan yang sejati dikemukakan Yesus, yakni 'SANGKULI' antara lain:
1. 'SANG'-kal diri
'Menyangkal diri' maksudnya melawan kecenderungan diri yang mengarah kepada dosa, yang membawa kita kepada kebinasaan.
Di sinilah Yesus mengajak kita untuk mengosongkan diri, lepas dari keterikatan pada harta dan gegap gempita/cinta dunia. Ia memberi teladan pengosongan diri (kenosis), yang 'menganggap diri sendiri tak ada', membiarkan diri 'terlupakan' demi Tuhan, tidak lagi egois-narsis tapi hidup berpola 'Kristus-sentris' dengan menomor-satukan kehendak Allah dimana hal-hal sorgawi jauh lebih penting daripada hal-hal duniawi. Kita akan memperoleh 'hidup kekal' karena kita tidak begitu mengindahkan dunia dan kita bersedia mengorbankannya semata-mata demi Tuhan.
2. pi'KUL' salib
'Memikul salib' merupakan salah satu cara kita untuk “mengenakan Kristus” secara real setiap hari yang bisa diartikan bahwa perjuangan iman ini butuh konsistensi untuk mematikan "HEM" - Hedonisme, Egoisme dan Materialisme”.
Di sinilah kita diajak untuk siap menghadapi semua resiko/kemungkinan, seperti dialami Yesus karena kesetiaan iman kepada Allah. Belajar menerima kenyataan dengan tenang, belajar menghadapi krisis dengan ikhlas dan lebih memilih bekerja keras daripada mengeluh merupakan bentuk-bentuk konkret memanggul salib. Mengeluh dan menyerah adalah halangan yang akan mencegah datangnya keberhasilan dan kebahagiaan. Menerima kegagalan dengan tenang adalah cara cerdas mengelola pengalaman negatif. Mengeluh tidak dapat mengubah kenyataan, hanya kerja keras yang bisa membawa kembali harapan. Meskipun tidak semua mimpi dapat menjadi kenyataan, namun impian indah dapat membawa keindahan pada hidup kita.
3.'I'-kuti Tuhan:
'Mengikuti Tuhan' berarti menjadi murid/pengikut/pergi bersama-Nya. Petrus yang tadinya dipuji Yesus kini disebut sebagai iblis, “vade retro satana" - enyahlah iblis! Hal ini terjadi karena ia menjadi 'batu sandungan' bagi-Nya sebab ia hanya mengikuti kemauan sendiri dan bukan kemauan Tuhan.
Di sinilah kita diajak untuk berani mengikuti Tuhan dalam sengsara dan wafatNya supaya kita juga layak untuk bangkit bersamaNya. Inilah jalan iman bahwa penderitaan mendahului kemuliaan, kasih Allah yang mulia mewujud melalui salib yang hina.Yesus sendiri berbicara tentang kematian-Nya sebagai suatu kemuliaan abadi dan bukan sebagai tragedi.
Saudaraku, sabda Tuhan pada hari ini mengingatkan kita bahwa kemenangan atau keberhasilan kita menjadi murid Yesus yang sejati hanya akan dicapai, kalau kita sanggup menyangkal diri, memanggul salib dan mengikuti-Nya dengan taat-setia sampai akhir, tidak ada jalan pintas atau instant. Dengan pemahaman dan keyakinan ini maka kita akan dibawanya menuju kepada kebahagiaan, kedamaian dan kehidupan sejati. (Hd)