Hidup Menurut SabdaNya
Perjamuan umumnya dilakukan dalam suasana gembira. Ada canda tawa, keceriaan muka dan lain sebagainya. Perjamuan makan umumnya identik dengan pesta. Lantas mereka yang diundang hadir ialah orang-orang yang dianggap dekat dan memiliki tempat istimewa dalam hidup yang mengundang. Perjamuan dibanyak tempat juga dimaknai sebagai saat untuk merayakan kebahagiaan, merayakan keberhasilan atau merayakan suatu hari besar bagi suatu kelompok ataupun keluarga tertentu. Intinya, perjamuan makan ialah suatu perayaan.
Dalam bacaan Injil, Yesus juga mengadakan perjamuan. Namun perjamuan yang diadakan Yesus berbeda dengan perjamuan biasa. Perjamuan ini dilakukan dalam suasana hening, diam, dan mencekam. Hal itu terjadi karena Yesus menyingkap rahasia mengenai rencana penyerahan diriNya oleh salah seorang murid. Lantas perjamuan ini dijadikan momen bagi Yesus untuk mengucapkan kata-kata perpisahan kepada para murid yang dikasihiNya.
Perpisahan bukanlah hal yang mudah untuk diterima. Apalagi bila perpisahan terjadi dengan orang yang dekat dengan kita, atau orang yang kita cintai. Perasaan sedih, kecewa, takut dan perasaan-perasaan lainnya. Para murid juga merasakan kegalauan tersebut. Mereka tahu bahwa akan ditinggalkan guruNya. Akan ditinggalkan pribadi yang paling mereka kasihi. Namun yang menarik, Tuhan Yesus paham betul apa yang digeluti para muridNya. Ia berusaha meyakinkan para murid akan besarnya cintaNya kepada mereka.
Pengalaman berpisah dengan Yesus, pengalaman ditinggalkan oleh Yesus membelenggu perasaan para murid. Kita juga kerap mengalami pengalaman yang sama. Merasa sedih, takut, cemas saat berada dalam situasi sulit. Kita merasa bahwa Yesus meninggalkan kita dan tidak akan kembali lagi. Dalam banyak kesempatan, mengeluh dan meratap merupakan suatu hal yang biasa dilakukan saat kita merasa berjalan sendiri, ditinggalkan oleh orang yang kita sayangi bahkan oleh Tuhan. Namun Yesus berjanji akan senantiasa hadir dalam hidup manusia. Raga dan jiwaNya telah pergi meninggalkan kita, namun Ia menjanjikan adanya penolong yang lain, yakni Roh Kebenaran.
Lantas bagaimana caranya agar Roh Kebenaran tersebut senantiasa hadir dalam hidup kita? Yesus memberi persyaratan yang jelas; yakni supaya kita mangasihiNya. Mengasihi Yesus berarti mau berusaha untuk mengikuti sabdaNya. Mau menghidupi firmanNya. Karena hanya lewat cara demikian kita dapat menghadirkan kembali teladan Kristus ditengah dunia. Karena tahap tertinggi dari pengenalan dan pemahaman adalah perubahan sikap. Meski Kristus tidak lagi bersama kita secara fisik, namun teladan dan firmanNya mengubah hidup kita. Yesus mengundang kita untuk hidup seturut sabdaNya. (frater ayub)