arrow_back Kembali
Renungan 04 September 2017

HIDUP BARU DALAM KRISTUS

HIDUP BARU DALAM KRISTUS



Banyak guru rohani mendesakkan pertobatan dan pembangunan hidup. Tidak seorang menunjukkan keharusan ini begitu mendesak seperti Saulus yang menjadi Paulus, karena ia sendiri mengalami sentuhan Roh Kristus yang dahsyat itu. Ia bicara, dan mengajak atas dasar pengalaman. Roma 8, 5.35.37-39. Paulus pernah hidup menurut paham darah daging, agama fanatik atas dasar kebanggaan sebagai orang Yahudi. Tetapi kemudian ia disergap, dikuasai oleh Kristus, yang memasukkan unsur salib dan kebangkitan Putera Allah, Penebus bagi segala bangsa. Cinta Kristus ini mempesona pribadi Paulus yang dasar bercita-cita tinggi dan bersemangat menyala. Ia menyerahkan diri, seluruhnya direnggut, dijiwai, digerakkan dalam kebersatuan dengan Kristus. Tidak takut akan kekuatan di surga dan di bumi, menantang hidup dan mati, ia “keranjingan” Kristus, berani berseru : Siapa akan memisahkan kita dari cinta Kristus. Efesus 4,17.20-24; Paulus tahu artinya hidup baru dalam Kristus. Ajaran Kristus itu bukan ilmu pengetahuan, tetapi paham yang meresapi kesadaran, hingga mengubah keyakinan manusia, yang mengarahkan roh dan pikiran menjadi manusia baru dalam Kristus. Ciptaan baru ini dibentuk “menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” Ini pengalaman Paulus lagi setelah ia bertobat. Semua pikiran dan usaha sebelumnya yang tidak menuju Kristus dianggap kesia-siaan, yang harus diganti dengan pikiran Kristus dan persatuan dengan hidup dan perbuatan-Nya. Kel. 3, 1-5; 9,11 ; seluruh arah hidup manusia harus bergerak menuju Kristus. Segala sesuatu di dunia ini tidak berarti lagi, kalau tidak diarahkan kepada yang di atas, yang dari kekal, yang abadi, seperti dinyatakan dalam diri Kristus, setelah bangkit dan duduk di sisi Bapa. Dari ketinggian pandangan ini Paulus mau memurnikan hidup, sikap dan perbuatan umatnya yang baru saja bertobat: mereka harus meninggalkan percabulan, ketakhayulan, keserakahan, nafsu-nafsu kekuasaan, dan pertimbangan perbedaan bangsa, suku, tinggi rendah, kaya miskin. Sebagai orang kristiani dalam hidup baru, mereka harus meninggalkan segala kepalsuan dan berusaha menemukan dan menghayati kenyataan, bahwa “Kristus adalah semua, yang ada dalam segala.”
John Tondowidjojo, CM