arrow_back Kembali
Renungan 02 November 2015

HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS


Pada hari Minggu ini kita memperingati dan merayakan semua orang Kudus, baik yang dikenal maupun yang tak dikenal, baik yang dinyatakan kudus dengan resmi maupun yang tidak resmi. Mereka termasuk Kumpulan Besar yang dilihat oleh santo Yohanes seperti yang ditulis dalam kitab Wahyu, “Aku melihat suatu kumpulan besar orang banyak, yang tidak dapat dihitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri dihadapan Takhta dan di hadapan Anak Domba.....”. (7:9). Kita bersatu dengan mereka sebagaianggota dari satu KeluargaBesar yang disebut “Persekutuan Orang Kudus”. Gereja mengajarkan bahwa setiap orang dipanggil menjadi Kudus (LG 39), maka kitatidak perlu ragu-ragu dan takut menjadi kudus.
Kita merayakan kenangan para penghuni surga bukan hanya karena teladan mereka, melainkan terutama supaya persatuan segenap Gereja dalam Roh diteguhkan dengan mengamalkan cinta kasih persaudaraan. Sebab seperti persekutuan kristiani antara para musafir mengantarkan kita untuk mendekati Kristus, begitu pula keikutsertakan dengan para kudus menghubungkan kita dengan Kristus, yang bagaikan Sumber dan Kepala mengalirkan segala rahmat dan kehidupan umat Allah sendiri (LG 50). Gereja mengajarkan bahwa kekudusan yang telah dicapai oleh orang kudus dapat pula dicapai oleh setiap orang tanpa kecuali. Dengan kata lain “Sabda Kebahagiaan” yang disabdakan Yesus dapat juga dihayati dan diwujudkan oleh setiap orang dalam hidupnya sebagai jalan menuju kekudusan, sekalipun cukup berat dan dengan perjuangan untuk mencapainya, karena kita selalu mengukur segala sesuatu menurut ukuran manusia dan cenderung mencari jalan yang menyenangkan manusia. Sedangkan Sabda Tuhan tentang Kebahagiaanberbeda dengan apa yang dipikirkan manusia dan bahkanmelampau apa yang bersifat manusiawi.
Tujuan hidup manusia adalah mencapai Kekudusan Ilahi dan jalan yang harus ditempuh adalah Jalan Tuhan dan bukan jalan manusia. Jalan Tuhan sebenarnya bukanlah jalan berat, melainkan jalan sederhana. Jalan Tuhan tampaknya berat, karena kita tidak terbiasa dengan jalan Tuhan atau bahkan tidak membiasakan diri lewat jalan Tuhan. Kita diminta untuk senantiasa bertobat dan kembali ke jalan Tuhan seperti para kudus. Orang Kudus adalah manusia, sama seperti kita, yang pernah jatuh dalam dosa. Hanya saja kemudian mereka segera bangun, bangkit, bertobat dan kembali ke jalan Tuhan. Para kudus sepertinya mengajarkan kepada kita bahwa Jalan Kekudusan hanya tampaknya berat,  tetapi membawa Kebahagiaan, karena Jalan Tuhan berarti berjalan menuju Allah dan menuju Allah berarti menuju Kebahagiaan sejati. (J. Widajaka Pranata, CM)