arrow_back Kembali
Renungan 09 September 2018

HARI MINGGU KITAB SUCI NASIONAL

HARI MINGGU KITAB SUCI NASIONAL


Amin bersama keluarganya mengunjungi neneknya di sebuah desa di luar kota. Amin memilih naik kereta, dan memilih duduk di bangku dekat jendela. Harapannya bisa melihat pemandangan selama dalam perjalanan. Benar juga ! Ketika kereta memasuki wilayah persawahan, Amin mengarahkan pandangannya  ke luar dan terkagum kagum melihat indahnya sawah, ladang serta para gembala yang sedang menggembalakan itik dan kambing. Sesekali Amin melihat orang yang sedang membajak sawahnya dengan menggunakan tenaga lembu. Amin terus mengarahkan pandangannya di luar jendela. Ketika kereta memasuki wilayah hutan, Amin terus memperhatikan apa yang di lihatnya di luar sana.
Setelah merekam dalam benaknya apa yang telah dilihatnya, Amin bertanya kepada ibunya.  :” Bu, tadi kulihat pohon pohon di luar sana  kok bergerak  ?  Ibu menjawab :”  Amin, bukan pohon itu yang bergerak, tetapi yang bergerak adalah kita, kita ada dalam kereta dan terus bergerak maju, seolah olah pohon dan apa saja yang kamu lihat di luar itu bergeark meninggalkan kita. Itulah yang di namakan gerak semu. Sepintas kelihatan bergerak tetapi sebenarnya tidak bergerak.
Pembaca renungan yang budiman, pengalaman Amin, juga sering kita lihat dalam hidup bermasyarakat. Ada orang yang kelihatan baik, sopan dan agamis ternyata hidupnya jauh dari kehendak Tuhan. Semunya baik tetapi sebenarnya hanya untuk menutupi kekurangannya. Allah menghendaki agar kita tetap berpegang pada ketetapan Allah dan jangan yang lain. “Maka sekarang, hai orang Israel, dengarlah ketetapan dan peraturan yang kuajarkan kepadamu untuk dilakukan, supaya kamu hidup dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allah nenek moyangmu ( Ul.4:1). Tak ketinggalan pemazmur juga mengingatkan kita supaya kita tetap baik dihadapan-Nya dan tidak pura pura baik. Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya,..(Mzm,15:2 ). Kita beranggapan, bahagia dan bangga ketika mendapat pujian dari sesama, yang sebenarnya kita tidak melakukan sesuatu baik dan benar dihadapan Allah.  Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu. Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri ( Yak.1:21-22)
Bagaimana Yesus memberikan kecaman yang tajam terhadap orang yang hanya mementingkan hukum manusia dan mengesampingkan kehendak Allah.:”Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya. Sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang ( Mrk.7:15.21-23)
Sudahkah kita melakukan yang baik dan menghindari yang jahat? Apakah sebaliknya, kita hanya berpenampilan baik, kelihatan agamis, kelihatan suci ( semune apik )? Tetapi hati kita jauh dari Tuhan? (thomas)