arrow_back Kembali
Renungan 08 October 2017

HARAPAN TUHAN

    HARAPAN TUHAN

 
Kita sering membicarakan harapan kita kepada Tuhan. Sebaliknya kita jarang bertanya apa harapan Tuhan terhadap kita. Bagaimana harapan Tuhan Pencipta kita dinyatakan dengan indah lewat nabi Yesaya dalam bacaan pertama, dan oleh Yesus dalam injil.
Tuhan digambarkan sebagai pemilik kebun anggur yang menanam dan  menyediakan segalanya supaya anggur itu bertumbuh kembang dan menghasilkan buah yang baik, yakni perbuatan keadilan dan kebenaran. Namun ternyata yang dihasilkan hanya buah yang asam, yakni kelaliman dan keonaran. Maka Tuhan begitu kecewa sehingga merobohkan pagar-pagarnya dan membiarkannya rusak tanpa disiangi. Kebun anggur itu adalah kita umatNya yang tidak setia dan tidak mengikuti bimbingannya, sehingga merusak diri kita sendiri dengan berbuat lalim dan onar. Bukankah kita sering merusak keluarga, lingkungan kerja, dan masyarakat kita sendiri karena mengutamakan kepentingan ego kita dan mengabaikan bimbingan dan pemeliharaan Tuhan? Kita terus mengejar ambisi kita masing masing, lalai untuk mengabdi Tuhan, sehingga lalai untuk mengasihi, berbuat adil dan benar bagi orang orang yang menjadi tanggungjawab kita. Sebaliknya dengan lalim kita memperlakukan mereka sehingga terjadilah keonaran dalam keluarga, tempat kerja, dan masyarakat kita.
Dalam injil, Yesus menggambarkan kita sebagai penyewa kebun anggur Tuhan. Sudah selayaknya penyewa berbagi hasil dengan Tuhan sebagai pemilik. Namun kita sering mau memiliki dan menikmati seluruh hasilnya. Kita sudah diberi segala kemudahan oleh Tuhan dalam belajar dan bekerja, sehingga sukses. Namun lupa untuk bersyukur. Dengan sombong kita merasa bahwa semua sukses itu melulu hasil usaha kita. Kita enggan berbagi dengan Tuhan dan dengan sesama, bukan hanya harta kita, namun juga waktu kita untuk bergaul dengan sesama umat Allah. Bahkan bila perlu kita menyingkirkan Tuhan dan sesama dari hidup kita, agar tidak mengganggu kesibukan dan kesenangan kita.
Kalau sudah demikian kita berlaku tidak adil kepada Tuhan yang memberikan hidup ini kepada kita, apakah kita masih boleh berharap Tuhan akan terus mencurahkan rahmatNya kepada kita? Menolak Tuhan dan rahmatNya akan menyingkirkan Kerajaan Allah dari hidup kita dan keluarga kita dan dari masyarakat kita. Kelaliman kita mau enak sendiri, mau menang sendiri akan melahirkan keonaran dalam keluarga, pergaulan, tempat kerja, dan masyarakat kita.
Lalu bagaimana seharusnya? Marilah kita bersikap adil dalam berbagi hidup ini dengan Tuhan dan sesama. Tentu Tuhan juga akan mendengarkan dan memerhatikan kebutuhan kita. “Maka damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Yesus Kristus. Jadi semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, itulah yang harus kamu pikirkan.” (sad budi)