Gong Qi Fa Chai! BERMEGAH DIHADAPAN ALLAH
Selamat merayakan tahun baru, bagi saudara-saudari yang merayakan Tahun Baru Imlek. Merayakan tahun baru pasti mewarnai diri dengan harapan, membayangkan kemurahan Allah sepanjang tahun, mensyukurinya dalam suasana penuh persaudaraan di antara keluarga-keluarga, dan membuncahkan sukacita di antara komunitas-komunitas. Semoga pengalaman tradisional itu juga sekaligus kita hayati dengan kaca mata iman kita, di mana Yesus juga menjadi guru kehidupan yang mengajarkan bagaimana bermegah, tetapi bermegah di hadapan Allah.
Sabda Bahagia dalam Injil Matius bab 5 merupakan tantangan sendiri bagi setiap kita yang mau melihat firman dari kedalaman. Kalau hanya membaca permukaannya, tentu menjadi sulit bagi kita untuk menerimanaya. Bagaimana mungkin, orang yang miskin justru dianggap yang paling berbahagia. Sementara kesibukan umat manusia di dunia didorong oleh keinginannya untuk menjadi kaya juga. Kalau demikian apakah orang kaya benar-benar tak boleh mencicipi kemuliaan Allah?
Hal itu perlu dicermati lebih jauh. Yesus tidak berbicara tentang kuantitas kekayaan, tidak memberi perhatian khusus pada bongkahan harta seseorang, atau kemiskinan seseorang di mata dunia. Yesus mengajak kita berbicara tentang bagaimana kita menempatkan diri, apakah di hadapan kekayaan dunia kita menjadi hambanya, atau pada sisi lain, kita tetap selalu menomorsatukan Tuhan, karena kekayaan hanyalah salah satu sarana yang diberikan Tuhan.
Jika demikian, Sabda Bahagia adalah ajakan untuk bermegah, pertama-tama karena Tuhan, bukan karena harta dunia yang kita miliki. Di sanalah kemudian menjadi jelas, bahwa menjadi miskin di hadapan Allah berarti tidak merasa menjadi tuan atas semua harta yang dimiliki karena kita hanyalah pengelola harta titipan yang Mahakuasa. Atau sebaliknya juga, tidak diperhambakan oleh barang-barang yang kita timbun, sehingga kita mencarinya sampai lupa daratan, lupa keluarga, lupa Tuhan. Atau memilikinya seolah menjadi raja penguasa, yang dengan congkak-pongahnya memamerkan yang kita miliki.
Kadang kita mendapat contoh yang begitu indah dari keluarga-keluarga miskin, yang kadang hidup dengan penuh kasih. Mendapatkan berapapun rejeki dari Tuhan mereka tak lupa bersyukur dan berbagi. Sebagai dampak rohaninya mereka diwarnai sikap hormat pada apapun yang menjadi sumber rejeki. Tak heran kalau kemudian para petani kecil begitu mencintai tanahnya, hormat pada tanah laksana menginjakkan kaki di rumah Tuhan. Mereka juga hormat pada setiap hasilnya, seberapapun didapat mereka bersujud syukur pada Sang Hyang Widi.
Berapa kali kita dibuat terkejut dan iri dengan sikap para miskin kota, yang begitu mendapat rejeki langsung memanggil teman-temannya untuk menikmati bersama. Saya masih ingat persis, sepulang dari memimpin manten/perkawinan di Katedral Surabaya saya membawa tiga kotak makanan. Sesampainya di perempatan Ngaglik-Kalianyar saya melihat dua pengamen. Saya menyerahkan dua kotak makanan kepada mereka. Dengan girangnya mereka menyambut. Yang mengejutkan saya, salah satu diantara mereka berteriak “Celuken arek-arek!! (Panggil anak-anak yang lain).” Dalam hitungan detik ada empat anak mengerumuni dua kotak makanan itu. Dalam hati saya mereka begitu cepat berbagi.
Semoga kita mampu bermegah, tetapi seperti dikatakan Santo Paulus kepada jemaat di Korintus, “Barang siapa bemegah, hendaklah ia bermegah dalam Tuhan” (Rm. Ignatius Suparno, CM)