EPIFANIA DOMINI
Hari Raya Penampakan Tuhan sering disebut juga Epifania Domini. Istilah Epifania Domini sendiri menunjuk kepada kebiasaan kerajaan di zaman kuno. Pada saat yang dianggap terbaik, biasanya pada hari ulang tahun kenaikan tahta dan sebangsanya, raja memper-kenalkan putra, pewaris kerajaan kepada seluruh rakyat. Ini suatu pesta yang meriah, yang dirayakan secara besar-besaran. Dengan pe-nampakan putra mahkota itu terjaminlah pewarisan keraja-an dan pemerintahan. Lewat penampilan di hadapan tiga majus, para gembala, imam Simeon dan nabiah Hanna di kenisah Yerusalem, Kanak-kanak Yesus diperkenalkan sebagai raja dan pemimpin sejati umat Israel yang baru, Gereja Kristus.
Namun, perkenalan dan penampilan-Nya masih terus berlanjut, lewat diri orang-orang yang percaya, lewat saksi-saksi-Nya. Mereka ini bergerak ke segala penjuru, dengan berbagai karya dan kegiatan berusaha mengaktualkan Epifania Domini. Suatu penampilan yang sederhana, namun selalu dirasakan manfaat dan kegunaannya, seperti dialami oleh saksi-saksi Epifania di zaman dulu. Ketiga majus, para gembala, imam Simeon dan Nabiah Hanna, mereka pulang dengan kesegaran baru, yang mereka tularkan kepada orang-orang yang mereka jumpai di perjalanan.
Estafet saksi-saksi ini dilanjutkan, karena Yesus masih harus ditampakkan sepanjang kurun zaman. Semua orang beriman terpanggil untuk mereali-sasikan penampakan-Nya melalui bermacam-macam karya dan profesi yang ditekuninya, bahkan juga melalui kehadiran dan keberadaannya di tengah-tengah hidup masyarakat, yang dirasakan cukup bermanfaat dan dibutuhkan serta ada kegunaannya.
Partisipasi umat beriman dalam liturgi Gereja mengalir dari imamat umum yang dimiliki oleh setiap orang beriman berkat sakramen baptis dan krisma yang diterimanya. Partisipasi umat dan para petugas liturgi awam bukan sekadar untuk membantu imam, tetapi merupakan pelaksanaan imamat umum semua orang beriman.
Dengan diterimanya sakra-men baptis itu seluruh umat beriman mengemban tugas perutusan Gereja untuk mengambil bagian dalam pelaksanaan tugas kepengantaraan dan penye-lamatan Yesus Kristus sebagai nabi, raja dan imam. Seluruh umat beriman menjadi pengemban tugas yang sebenarnya dan utama dalam penghadiran imamat Yesus Kristus. Dari imamat umum inilah semua orang beriman, entah paus, uskup, imam, suster, frater dan awam memiliki pangkal tolak yang sama bagi tugas perutusan Gereja yang sama. Konsili Vatikan II menegaskan dan mengajarkan kembali imamat umum seluruh umat beriman ini. (bdk. Lumen Gentium, Konstitusi Dogmatis KV II tentang Gereja, art. 9,10,26,34; Sacrosanctum Concilium, Konstitusi KV. II tentang Liturgi, art. 14, 48; Ad Gentes, Dekrit KV II tentang Kegiatan Misioner Gereja, art. 15) Dalam dokumen-dokumen ini tugas perutusan Gereja semakin nampak.
Saudaraku, semoga Anda sebagai insan beriman kristiani semakin menyadari tugas-tugas Epifania ini. Cobalah terus berupaya untuk tetap setia dan tekunlah terus menerus berjuang mencari terang yang berasal dari Sang Terang Sejati dan menjadi saksi-saksi-Nya ditengah tantangan jaman ini.(Hd)