arrow_back Kembali
Renungan 19 July 2017

EKARISTI SEBAGAI DAMBAAN HATI MANUSIA

EKARISTI SEBAGAI DAMBAAN HATI MANUSIA


  Hati manusia diciptakan membawa rindu, dan baru akan puas kalau dapat bersatu kembali dengan Pencipta-Nya, Ekaristi adalah makanan di perjalanan, sekaligus jalinan persatuan dengan Tuhan yang mencinta. 1. Kerinduan manusia dan kerinduan seluruh alam raya. “Dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan… Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita, yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita, sambil menanti putera, kalau ia sudah dipersatukan dalam Sang Putera, dan hidup dijiwai oleh Roh Allah, dalam perjalanan menuju Bapa. Dan ini justru yang kita rayakan dalam Ekaristi. Kata manunggal diterapkan pada persatuan dengan Tuhan dalam penyambutan Tubuh Kristus (manunggaling kawula Gusti = Persatuan hamba dengan Tuhannya) dapat diterima, sejauh manunggal tidak berarti peleburan, seperti garam didalam laut, menjadi sehakikat; melainkan manunggal berarti persatuan cinta yang paling dalam, namun manusia tetap memiliki pribadinya, yang bisa mencintai Pribadi yang Mahaagung; Allah yang tidak melenyapkan, tetapi melangsungkan pribadi kita untuk dicinta. 2. Dalam pembebasan manusia seluruh makhluk dibebaskan. Oleh dosa manusia menjadi budak, dan “Seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan (Roma 8,20). Manusia dalam dosa tidak bebas, ia budak, karena dikuasai oleh kesia-siaan. Ia tidak lagi kuasa berhenti, bebas dan memilih. Hanya unsur Allah penyelamat, yang bagi manusia tertebus dikonkretkan dalam Ekaristi, akan menumbuhkan kesadaran kembali, penyadaran manusia akan panggilannya sebagai anak-anak Allah, yang diteguhkan dalam Kristus, bersama Putera oleh kuasa Roh demi kemuliaan Bapa. Apabila ini sudah menjadi kenyataan, manusia tidak lagi akan menyalahgunakan makhluk untuk kesia-siaan, seperti di zaman sekarang perampasan sandang, pangan, papan, hak kaum miskin, perusakan, pencemaran, penghancuran alam yang menjadi kehancuran manusia sendiri. Dunia akan menjadi lebih baik, cerah, dihuni oleh manusia bahagia, yang mencapai kerinduannya.
                                                                                               J.V.S Tondowidjojo, CM