arrow_back Kembali
Ruang Katekese 26 April 2018

DAUN PALMA SEBAGAI CERMIN KESETIAAN

DAUN PALMA SEBAGAI CERMIN KESETIAAN

     

Dalam perayaan Minggu Palma, kita mendengarkan dua bacaan yang berbeda. Pada bacaan Injil sebelum pemberkatan daun palma, kita mendengarkan bagaimana orang-orang mengelu-elukan Yesus yang datang sebagai Raja. “Hosana Putera Daud”. Sambutan yang meriah, pujian dan pengharapan ditujukan pada Yesus. Sang Raja duduk di atas keledai, pakaian dan ranting hijau dihamparkan untuk  meyambut kedatanganNya di Yerusalem.
Suasana yang berbeda kita temui dalam bacaan Injil. Kisah sengsara perjalanan Yesus menuju Golgota. Tidak ada pakaian dan ranting hijau yang dihamparkan, tidak ada yang mengelu-elukanNya sebagai Raja. Tidak ada pujian dan harapan yang ditujukan padaNya. Justru yang terjadi adalah hujatan dan hinaan.
Situasi yang kelihatannya tragis, awalnya berharap dan memuji, berubah menjadi penghinaan dan meninggalkan. Ketika Yesus masuk ke Yerusalem, banyak orang berharap dan menyambut kedatanganNya. Tetapi ketika Yesus masuk ke Golgota, dimanakah orang-orang yang pernah menyambutnya. Justru mereka berbalik menghina dan meninggalkanNya.
Melalui dua peristiwa tersebut, kita merenungkan gambaran kesetiaan. Kesetiaan Yesus sang Putra Allah dan ketidaksetiaan manusia. Ketika Yesus disambut dengan sorak sorai sebagai Raja, Dia tetap setia dalam kesederhanaan dan kerendahan hatiNya. Dia memasuki Yeusalem bukan dengan kemeriahan dan kemewahan seorang penguasa kerajaan. Justru Dia menaiki seekor keledai. Demikian pula ketika Yesus memasuki Golgota, Dia setia menanggung penderiataan, siksaan dan hinaan sepanjang Jalan Salib. Dia tidak meninggalkan semuanya itu dan mencari selamat sendiri. Semua itu demi kesetiaan untuk taat pada kehendak  Bapanya dan demi CintaNya pada manusia.
Tetapi dari pihak manusia, seringkali mudah sekali berubah menjadi tidak setia ketika mempunyai kekuasaan dan kelimpahan materi. Manusia menjadi mudah masuk dalam godaan untuk berpaling pada kenikmatan pribadi daripada harus melakukan yang baik dan benar dihadapan Allah dan sesama. Demikian pula ketika berhadapan dengan kesulitan, dan penderitaan, manusia dengan mudah bisa meninggalkan nilai-nilai kebenaran. Manusia lebih memilih kenyamanan dan rasa aman untuk diri sendiri daripada harus memanggul salibnya.
Hari ini kita menerima Daun Palma yang sudah diberkati, bersama daun palma ini, kita diingatkan akan kesetiaan Allah pada manusia dan kenyataan bahwa manusia bisa menjadi tidak setia dalam hidupnya. Mari kita bercermin dari peristiwa Minggu Palma ini. Semoga daun palma yang kita bawa kerumah, menjadi cermin yang senantiasa mengingatkan kita untuk menjadi setia dalam kebenaran sebagai persekutuan umat beriman, sebagai suami – istri – anggota keluarga, sebagai pimpinan – karyawan, dan sebagai anggota masyarakat.
Agustinus Dodik Ristanto, CM