arrow_back Kembali
Ruang Katekese 19 July 2017

DASAR DAN SUMBER IMAN

DASAR DAN SUMBER IMAN

'Misteri Allah Tritunggal yang Mahakudus' - Bapa dan Putera dan Roh Kudus- adalah dasar dan sumber seluruh kehidupan iman kita.
‘Dasar’ karena dalam misteri ini kita dapat menemukan landasan dan dinamika kehidupan iman. ‘Sumber’ karena dalam misteri ini seluruh kekayaan hidup beriman ditumpukan. Masalahnya, bagaimana iman kita akan misteri Allah Tritunggal ini dihayati dalam hidup sehingga menjadi kekuatan dan mengembangkan sikap iman yang nyata dalam perbuatan yang memberikan daya juang dan berguna bagi kehidupan bersama.
‘Daya juang’ maksudnya berani mengupayakan hubung-an yang saling menyerahkan diri satu sama lain. ‘Kehidupan bersama’ maksudnya hidup dalam persekutuan yang memiliki kesatuan batin yang tak terpisahkan antar sesama sebagai jemaat, sebagai anggota keluarga. Kesatuan batin yang saling menghargai kekhasan masing-masing, sehingga dapat saling memperkaya dan menjadi tanda harapan yang membangkitkan semangat. Ketika seseorang sudah tak mampu bekerja sama dengan sesamanya dan ketika ia tidak lagi melihat Allah sebagai dasar dan sumber hidupnya; ketika ia merasa kuat dan aman, pada saat itulah ia berhenti sebagai manusia 'trinitaris'. Ia akan menjadi manusia miskin dalam segala hal, karena hanya memiliki dirinya sendiri, menjadi one in none: tanpa Tuhan, tanpa sesama dan bahkan tanpa dirinya sendiri.
Oleh karena itu, sebagai orang beriman, perlu membuka hati dan diri seluas-luasnya bagi pengalaman akan kasih Allah, meskipun pengetahuan kita sangat terbatas. Sebab keterbukaan hati sepenuhnya akan kasih Allah membuat iman kita hidup, bertumbuh dan berkembang; sehingga kita dapat sungguh mengalami dan merasakan keagungan misteri  Allah Tritunggal yang selalu hadir dan menyertai.
Memang, kita tidak akan pernah tahu dan memahami sepenuhnya bagaimana Allah hadir dan menyertai kita dalam kehidupan ini, tetapi kita yakin bahwa Allah selalu hadir dan tidak akan pernah membiarkan kita berjalan sendirian; Allah senantiasa menyertai hidup kita sampai akhir zaman, maksudnya Allah bukan hanya sekedar menyertai perjalanan hidup kita di dunia ini saja, tetapi tetap menyertai sampai kita menghadap kepangkuan Ilahi, hidup kekal. (bdk. Yoh. 3:15)
Saudaraku, sejauh mana keakraban Anda dengan  Allah Tritunggal sungguh menjiwai seluruh hidup Anda sehingga tercermin dalam pola pikir, dan sikap dalam hidup?(Hd)