DAMAI SEJAHTERA BAGI KAMU
'Ecclesia semper reformanda' artinya Gereja yang berdosa harus selalu bertobat. Mengapa?! Karena, hanya dalam kesatuan erat dengan Kristus, Gereja dapat menghadirkan Yesus Kristus, dan karena itu menjadi tanda dan sarana kehadiran Allah. Jika terlepas atau jauh dari Yesus Kristus, Gereja tidak mampu menjadi tanda dan sarana kehadiran Allah. Karakter pembaharuan diri dari dalam diri ini sudah terjadi pada saat kelahiran Gereja, yakni pada hari Pentakosta (Kis.2:1--11). Gereja lahir dari rahim ilahi Yesus pada hari Pentakosta ditandai dengan datangnya Roh Kudus dalam bentuk lidah-lidah api dan membakar para rasul dari dalam; dan kualitas baru dari dalam itu membuat mereka dikagumi oleh orang-orang yang sebelumnya melecehkannya. Gereja yang baru lahir di Yerusalem itu, setelah diubah dari dalam oleh Roh Kudus, tampil juga menjadi sebuah Gereja yang kharismatis, karena memiliki berbagai karunia roh; Gereja yang diakonia karena pelayanannya; Gereja yang misioner, karena diutus ke segala bangsa; dan Gereja yang mewartakan damai sejahtera."Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu" (Yoh.20:21).
Tanpa Roh Kudus maka Allah akan jauh. Gereja hanya menjadi sebuah organisasi sederhana, autoritas menjadi kekuasaan, karya pewartaan hanya melulu menjadi suatu propaganda. Sebaliknya dengan turunnya Roh Kudus seluruh alam semesta dimekarkan menjadi sebuah pentas kerajaan Allah, Kristus yang bangkit menjadi sebuah kehadiran real, Injil menjadi kekuatan dan kehidupan. Gereja menjadi sebuah komunitas trinitaris, autoritas ditransformasikan menjadi pelayanan, dan seluruh tindakan manusia diilahikan. Mereka akan menyadari kemampuannya untuk berbuat baik serta tugas utama-nya untuk selalu menciptakan kebaikan setiap saat. Tidak sedikit orang yang merasa diri tidak mampu berbuat apa-apa karena berbagai situasi dan kondisi, dan karena itu merasa hidupnya tidak berarti. Padahal orang Kristen yang sudah dibakar dari dalam oleh Roh bisa menjadi manusia ilahi yang produktif bahkan dengan hanya mengucapkan: "Damai sejahtera bagimu" dan juga dengan hanya memberikan pengampunan kepada orang lain.
Saudaraku, sejauh mana Anda menyadari peran Roh dalam diri sehingga Anda mampu mewartakan 'damai' kepada sesama? (Hd.)