CIRI KHAS ORANG KRISTEN
"Kita semua diutus!" maksudnya kita semua mempunyai tugas perutusan sekaligus panggilan sebagai anak-anak Allah untuk berani terus menerus berjuang tanpa pamrih mewartakan kabar sukacita secara bersama-sama kepada orang lain. Kita semua diutus sebagaimana Yesus mengutus 'kedua belas' murid-Nya untuk ikut ambil bagian dalam pewartaan karya keselamatan Allah. Itulah sebabnya perutusan 'kedua belas' murid menjadi sangat penting bagi masa depan Gereja dalam karya pewartaan ini untuk menjaga kontinuitas dan tradisi para rasul.(bdk.Mrk.6:7) Sedangkan panggilan kita sebagai anak-anak Allah merupakan panggilan ke arah kesucian, maksudnya kita diajak untuk terus menerus bertobat.
Pengebasan debu (Mrk. 6:11) bukan tanda kebencian, melainkan ajakan untuk bertobat. Pertobatan terus menerus ke arah kesucian itulah yang mampu menjadikan segala cacat cela dan kelemahan manusiawi kita lebih bermakna dalam membangun kasih ilahi. Kita lebih berani dan terbuka menyerahkan diri dalam penyelenggaraan ilahi. Panggilan ke arah kesucian ini lalu berarti bersekutu dengan Allah berkat kasih Allah kepada manusia. Sebab kita menjadi anak-anak Allah bukan karena 'hukum' melainkan karena Roh Allah yang dihadirkan di dalam pola pikir, pola sikap, dan pola tingkah laku hidup kita.
Perjuangan terus menerus ke arah kesucian yang dihayati demi pewartaan karya penyelamatan Allah yang mempersatukan manusia dalam kasih-Nya inilah yang menjadi ciri khas perutusan dan panggilan orang Kristen. Bila kita terfokus hanya melihat tantangan dan masalah hidup ini melulu, dan bukan pada solusinya maka tugas perutusan dan panggilan dalam hidup ini bagi kita akan terasa berat. Namun, bila kita menyadari betapa mendesak dan pentingnya warta sukacita itu bagi kehidupan manusia, maka kita akan melihat tantangan mewartakan karya keselamatan Allah ini menjadi sesuatu yang menarik untuk senantiasa diperjuangkan. Kesadaran ini kita butuhkan agar kita lebih bersemangat mengindahkan bahwa tugas perutusan dan panggilan ini sudah selayak dan sepantasnya terus menerus kita perjuangkan baik secara pribadi maupun bersama-sama.
Saudaraku, beranikah Anda sebagai anak-anak Allah tetap bersemangat terus berjuang menjalankan tugas perutusan ini tanpa pamrih demi terwujudnya Kerajaan Allah di dunia ini? Berjuanglah! (Hd.)