BUTA NAMUN MELIHAT
Bapak-Ibu serta saudara/i yang terkasih dalam Kristus, Stevie Wonder adalah salah seorang penyanyi yang terkenal namun Buta. Ada pula Helen Keller seorang penulis terkenal asal Amerika, juga seorang guru dan aktifis politik yang ternyata memiliki keterbatasan, yaitu tidak bisa melihat dan mendengar. Kedua orang di atas adalah orang-orang yang telah membuktikan kepada dunia bahwa keterbatasan fisik bukan menjadi penghalang untuk berkarya. Bahkan menjadikan hidup lebih berharga bagi diri sendiri dan orang lain.
Pada minggu ini, injil memperlihatkan kepada kita seorang pengemis buta yang sangat menginspiratif, mengapa? Karena ia yang buta, memiliki hati yang mampu melihat dan percaya akan Tuhan dan Rahmat-Nya. Oleh sebab itu, ketika ia mendengar bahwa Yesus dan para murid tiba Yerikho berserulah ia “Yesus Anak Daud, kasihanilah aku!” banyak orang yang mencoba menghentikannya . namun ia tetap saja menyerukan nama Yesus. Hingga akhirnya Yesus mau menemuinya. Dalam pertemuan tersebut, Bartimeus mendapatkan mukjizat Yesus yang membuatnya melihat kembali. Mukjizat yang ia inginkan dan mukjizat yang lahir karena imannya akan Yesus Kristus (bdk Mrk 10:52).
Kita dalam kehidupan sehari-hari mungkin berbeda dengan Bartimeus. Berbeda karena kita dapat melihat dengan jelas. Namun percaya atau tidak? Dunia modern membuat manusia kerap “buta” akibat silaunya kenikmatan-kenikmatan duniawi yang menawarkan hal-hal atau kesenangan-kesenangan instan, yang mudah datang, namun juga mudah pergi seiring dengan perkembangannya.
Ke”buta”an kita menyebabkan kita tidak mampu melihat Yesus dengan lebih jelas. Sedikit masalah dan konflik menimpa hidup kita, dengan mudahnya kita mengatakan bahwa “Tuhan tidak adil!” atau “Ia tidak mendengar doa-doa kita!” Jauh berbeda dengan Bartimeus atau bahkan Stevie Wonder dan Helen Keller pada contoh di atas. Mereka membuktikan bahwa mata yang mampu melihat dengan lebih jelas adalah mata iman dan pengharapan.
Bartimeus dengan mata imannya mampu membuatnya melihat Yesus. Mata iman yang kemudian membuatnya terbebas dari keterbatasan fisik. Mata iman yang kemudian membuat seorang buta tidak lagi buta. Namun mampu melihat. Pengalaman ini bukan lagi sebatas pengalaman fisik, tapi pengalaman iman. Pertanyaannya ialah mampukah kita memiliki iman dan pengharapan seperti Bartimeus? Kita dengan fisik yang lengkap dan utuh seharusnya mampu memiliki iman yang lebih. Oleh sebab itu hendaknya kita dalam hidup memiliki kerinduan, iman dan pengharapan yang sama seperti Bartimeus yang memampukan kita kemudian berseru dan mewartakan karya Agung Tuhan, karya keselamatan. Tuhan memberkati. (AP)