arrow_back Kembali
Renungan 26 July 2015

"BROKEN and SHARED"

Bacaan Pertama 2Raja 4:42-44 menceriterakan kekuatan dan kuasa kharismatis, “Berikanlah roti itu kepada orang-orang ini, supaya mereka makan”. Elias memberi santapan dan perhatian kepada mereka yang kekurangan dan melarat. Sedangkan bacaan kedua Ef 4:1-6 sangat menekankan “persatuan” umat Allah,”Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh dalam ikatan damai sejahtera”.Umat Allah merupakan satu Tubuh dan satu Roh, satu harapan, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah yang adalah Bapa semua orang. Di dalam perayaan Ekaristilah umat ini menjadi sungguh satu: “Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak adalah satu Tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu “ (1 Kor 10:17). Kemudian Injil Suci (Yoh 6:1-15) menggambarkan peristiwa perbanyakan roti sebagai perhatian Yesus terhadap mereka yang lapar dan kekurangan. Yesus sendiri kemudian menyerahkan diri Nya untuk menjadi santapan bagi mereka yang lapar.

Banyak hal yang dapat kita renungkan dari Injil hari Minggu ini yaitu : Pertama, dalam Injil tersebut (Yoh 6:1-15) banyak orang mengikuti Yesus, karena mereka tertarik dengan apa yang telah dilakukan Yesus. Mereka datang berduyun-duyun ingin mendengarkan pengajaran Yesus dan menyaksikan serta mengalami mujizat penyembuhan yang dilakukan Nya. Mereka begitu rindu untuk bertemu Yesus. Semangat mereka yang begitu besar dalam mengikuti Yesus menyebabkan mereka sampai tidak memikirkan bekal untuk dimakan. Mereka senang bertemu dengan Yesus untuk mendengarkan pengajaranNya. Kita yakin bahwa banyak juga di antara mereka yang disembuhkan. Kemudian dengan perbanyakan roti mereka dikenyangkan secara jasmani berkat roti dan ikan yang digandakan oleh Yesus bagi mereka. Peristiwa dalam Injil hari ini memberikan pelajaran berharga bagi kita. Barangsiapa berani memprioritaskan Yesus dalam hidupnya, ia akan mendapatkan kelegaan jasmani dan rohani. ( lihat Yoh 6:35.48.58).

Kedua, Kisah perbanyakan roti ini mengingatkan pengalaman Yesus di padang gurun,yaitu ketika Dia sendiri lapar karena berpuasa 40 hari 40 malam dipadang gurun. SebenarnyaYesus dapat melakukan sesuatu untuk diri Nya sendiri, tetapi Dia tidak melakukanNya. Yesus serta merta berbuat sesuatu jika orang lain sedang membutuhkannya. Hidup Yesus adalah untuk kepentingan orang lain. Bahkan, Dia memberikan hidup Nya untuk keselamatan manusia.Yesus adalah Musa baru, pemberi makan bagi manusia, yang tidak hanya makanan duniawi, melainkan “Roti kehidupan” (Yoh 6:35.48.58).

Yesus Kristus yang “tahu apa yang hendak dilakukan-Nya” (Yoh 6:6) menyuruh para murid Nya turut berpikir mengatasi kesulitan memberi makan kepada orang banyak ini. Ini menggambarkan cara kerja Tuhan pada umumnya, yaitu Tuhan menghendaki menyelamatkan manusia dengan kerja sama dengan manusia juga.

Akhirnya “karena Yesus tahu bahwa mereka akan datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk dijadikan raja, Ia menyingkir lagi ke gunung seorang diri”  (Yoh.6:1-15).

                                                                                     Rm. J. Widajaka Pranata, CM