BIJAKSANA
Dalam injil hari ini Yesus mengisahkan perumpamaan tentang sepuluh gadis yang menyongsong mempelai lelaki. 5 gadis bijak dan 5 gadis bodoh. Gadis yang bijak selain membawa pelita menyala, juga persediaan minyak, sedangkan yang bodoh hanya membawa pelita, tanpa persediaan minyak. Karena mempelai lelaki tak kunjung datang, maka pelita mereka hampir padam tatkala diserukan mempelai sudah datang. Gadis bijaksana segera mengisi pelita dengan minyak cadangan, sementara yang bodoh karena tidak punya persediaan bergegas membeli minyak. Pada saat mempelai benar-benar datang, gadis gadis bodoh itu belum kembali. Mereka masuk ruang perjamuan dan pintu dikunci, sehingga gadis gadis bodoh itu tak dapat masuk.
Bukankah demikian yang sering terjadi dalam kehidupan ini. Orang bijaksana berpikir jauh, orang bodoh berpikir pendek. Orang bijak cepat menangkap peluang, orang bodoh sering melewatkan peluang atau menyia-nyiakan kesempatan. Orang bodoh seringkali hanya memikirkan saat ini, sehingga enggan menabung, termasuk kurang bijaksana dalam mendidik anak-anak mereka. Orang bijaksana tahu menanggapi kehidupan ini dengan tepat, karena itu seringkali hidup mereka ini sukses dan bahagia. Kebijaksanaan begitu berharga bagi manusia. Bagaimana kita memperolehnya?
Kebijaksanaan pertama tama berasal dari Tuhan, karena Tuhanlah yang menciptakan dan menyelenggarakan hidup ini. Kalau kita mau bijaksana, kita harus sering datang kepadaNya. Bacaan pertama dengan indah menyatakan bahwa kebijaksanaan itu mudah ditemukan oleh orang yang mencarinya dengan penuh kasih. Pagi hari adalah saat yang terbaik, tatkala hati dan pikiran kita masih jernih, dalam keadaan demikian jika kita sungguh mencari kebijaksanaan akan mudah menemukannya dekat pintu rumah (hatinya). Berdoa, membaca dan merenungkan Kitab Suci dengan meditasi di pagi hari sangat bermanfaat untuk dengan bijaksana menentukan sikap dan langkah langkah kita hari itu. Ini mengandaikan kita tidak begadang di malam hari, sehingga kita dapat bangun lebih pagi. Namun bagi yang sungguh tak mampu bangun pagi, kita dapat mencari waktu lain. Pokoknya setiap hari kita harus menemukan waktu untuk merenungkan hidup kita, dan mohon terang kebijaksanaan Tuhan untuk menerangi jalan hidup kita dengan kebijaksanaanNya. Berkat Tuhan sungguh akan kita alami tatkala kita mau dibimbing oleh kebijaksanaan Tuhan sendiri.(sad budi)