BERSYUKUR DAN BERTERIMAKASIHLAH...
Mengucapkan ‘terimakasih’ ketika orang lain memberikan sesuatu pada kita, merupakan pelajaran etika yang pertama-tama diberikan orang tua pada kita. Berterimakasih memang menjadi etika umum yang berlaku di mana saja. Namun demikian, kesadaran untuk mau senantiasa mengucapkan rasa syukur dan terimakasih rasanya tidak mudah untuk kita jumpai pada masa kini. Hal ini terjadi karena tanpa sadar sebagian besar diantara kita cenderung lebih menyombongkan diri, tidak pernah merasa puas, selalu mengeluh dan sulit melihat kebaikan Tuhan dalam hidupnya.
Kisah penyembuhan atas sepuluh orang kusta oleh Yesus dalam Injil hari ini menyampaikan pesan penting bagi kita, betapa Yesus sangat menghargai satu-satunya orang kusta yang disembuhkan dan mau kembali kepadaNya! Yesus menyembuhkan kesepuluh orang kusta yang memanggil-Nya. Akan tetapi, hanya si Samaria saja yang tahu berterimakasih dan kembali tersungkur di hadapan-Nya. Ia tahu bahwa sentuhan tangan kasih Tuhan tidak hanya menyembuhkan sakit fisiknya saja, tetapi juga mengubah hati dan menyelamatkan hidupnya. Nilai terimakasih yang diungkapkan orang Samaria itu lebih dari sekedar ungkapan terimakasih biasa. Itu adalah ungkapan syukur yang berfokus pada “Memuliakan Allah” seperti yang juga dikatakan oleh Yesus sendiri. Itulah syukur kepada Tuhan sebagai bagian dari tindakan memuliakan Allah.
Dari kisah tersebut di atas, ada dua hal yang bisa kita renungkan bersama. Pertama, marilah kita lebih banyak bersyukur dan berterimakasih daripada mengeluh dan mencela. Marilah kita waspada dengan gerakan hati dan pikiran yang begitu mudahnya berpikir negative dan tidak puas, dan tanpa sadar mulut kita pun mengeluarkan kata-kata celaan dan keluhan. Kedua, ungkapan syukur dan terimakasih ternyata bermakna rohani yang amat dalam yang intinya: memuliakan Allah. Setiap terimakasih yang keluar dari mulut kita bergema pemuliaan kepada Allah. Itu pula yang dibuat oleh Naaman setelah disembuhkan oleh Nabi Elisa. Terimakasih yang tulus selalu bermuara ke memuliakan Allah!
Rm. Tetra Vici Anantha, CM