BERSIAP BATIN UNTUK BERBAGI SUKACITA
Christmas is coming! Seruan tersebut tentu melingkupi kehidupan sehari-hari umat kristiani selama menjalani masa adven. Kerinduan akan datangnya Natal menggerakkan tiap-tiap pribadi untuk mempersiapkan pelbagai hal. Keluarga-keluarga mulai menyiapkan dekorasi natal di rumah masing-masing. Ada pula yang menyiapkan sajian-sajian natal, kado natal ataupun menyusun agenda yang akan dilaksanakan pada saat natal tiba.
Masa persiapan dan penantian akan kedatangan Tuhan kini memasuki pekan yang ke IV (empat), pekan terakhir masa adven. Pekan ini merupakan pekan dimana semua pihak semakin disibukkan dengan persiapan-persiapan teknis praktis Hari Raya Natal. Terutama bagi para aktivis Gereja, waktu demi waktu diisi dengan aneka persiapan menyambut perayaan Natal di Gereja. Mereka mencurahkan segenap hati dan tenaganya untuk memeriahkan Hari Kelahiran Tuhan.
Persiapan-persiapan fisik memang baik untuk dilakukan. Namun tetap ada persiapan lain yang tidak kalah penting. Persiapan lain yang juga harus dilakukan yakni persiapan batin. Persiapan yang menyangkut kedalaman penghayatan seseorang. Disini yang dituntut tidak hanya kemantapan persiapan-persiapan teknis praktis seputar perayaan dan kemeriahan Natal, tetapi juga kemantapan batin untuk menerima kedatanganTuhan. Karena Tuhan akan datang hingga masuk kedalam hati setiap orang.
Adapun tokoh yang dapat menjadi teladan dalam mempersiapkan batin yakni Bunda Maria, Bunda Gereja. Sejak semula telah diramalkan bahwa akan ada seorang perempuan yang akan mengandung putera Allah. Dalam Kitab Nabi Yesaya dinubuatkan demikian,: “ sebab itu, Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda; sesungguhnya seorang perempuan muda akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamai Dia Imanuel.” (Yes 7:14). Bunda Maria menjadi istimewa karena telah ditetapkan oleh Allah untuk terlibat dalam menyingkap misteri keselamatan Allah di dunia.
Setiap orang beriman juga dipanggil untuk terlibat dalam karya keselamatan Allah. Pertama-tama dipanggil untuk menjadi kudus (Roma 1:7). Menjadi kudus dalam arti sederhana berarti menjadi pribadi-pribadi yang berbeda dari yang lain. Berbeda dari orang-orang pada zamannya. Bila pada zaman ini banyak orang terlena dengan pelbagai kemajuan dan kenyamanan yang ditawarkan dunia sehingga melupakan Allah., maka orang-orang kudus tersebut ialah mereka yang tetap memiliki hati dan jiwa untuk menyandarkan hidup kepada Allah.
Proses keteladanan Maria disempurnakan oleh ketulusan hati Yusuf, tunangan yang kemudian menjadi suaminya. Saat mengalami keragu-raguan, Yusuf berniat menceraikan Maria secara diam-diam (Mat 1:20). Namun saat malaikat Tuhan mengunjunginya dan menjelaskan semuanya dalam mimpi, Yusuf akhirnya bersedia mengambil Maria sebagai istri (Mat 1:24). Sampai disini, tampak bahwa Yusuf memiliki kesiapan batin yang kokoh untuk mengikuti kehendak Tuhan. Tentu bukanlah sesuatu yang mudah bagi Yusuf untuk melakukannya, mengingat pertimbangan harga diri serta kehormatan keluarga. Namun Yusuf bersedia melibatkan dirinya dalam proses kehadiran Sang Juru Selamat.
Pada akhirnya kita diajak untuk senantiasa berani dilibatkan dalam karya-karya Allah. Sebagaimana Maria dan Yusuf yang siap mengikuti proses-proses yang dikehendaki Allah, kita juga diajak untuk meninggalkan diri sendiri, meninggalkan kesibukan-kesibukan dalam persiapan teknis-praktis perayaan Natal. Adapun tugas paling nyata yang akan kita terima pada saat Natal nanti yakni membagi sukacita kepada semua orang. Sudahkah kumiliki sukacita tersebut? Atau, sudahkah sukacita itu menetap dalam hatiku, ataukah hanya melekat pada dekorasi-dekorasi yang kupersiapkan? Lantas sukacita seperti apakah yang akan kubagikan?. (fr. ayub dwi winar, cm)