arrow_back Kembali
Ruang Katekese 08 March 2017

BERFOKUSLAH PADA HARAPAN, BUKAN KERAGUAN

BERFOKUSLAH PADA HARAPAN, BUKAN KERAGUAN

Berhadapan dengan tantangan hidup yang semakin berat dan sulit serta alam semesta yang rusak dan kacau balau akibat ulah manusia yang melenceng dari kehendak Sang Pencipta, hampir di setiap suku bangsa muncul harapan akan kehadiran sosok pemimpin yang bisa membawa solusi untuk menyelesaikan krisis kehidupan yang terjadi.
Dalam Perjanjian Lama keyakinan akan datangnya seorang tokoh besar yang dapat memulihkan, meng-embalikan segala sesuatu kepada kebaikan, keharmonis-an, keindahan serta kebahagiaan sebagaimana dikehendaki Sang Pencipta pada saat penciptaan semesta pun berkembang luas. Keyakinan itu dimiliki hampir setiap orang Yahudi sepanjang sejarah. Namun bagaimana proses pemulihan itu akan terlaksana konsepnya sangat bervariasi, sebutan untuk tokoh yang akan datang itu pun bermacam-macam: Anak Manusia, Kristus, Mesias. 
Ada yang menggambarkan Mesias sebagai tokoh politik yang akan membawa kemerdekaan bagi bangsa Yahudi dari penjajahan Roma dan menghantar bangsa terpilih itu menuju kejayaan sebagaimana pernah dialami pada zaman Raja Daud. Ada yang mengharapkan Mesias datang dengan penuh kuasa dan kekuatan sebagai Hakim pada akhir zaman yang akan mengadili manusia berdasarkan perbuatannya, sebagaimana diangankan oleh Yohanes Pembaptis ketika mengajarkan bahwa “ ... setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, ditebang dan dibuang ke dalam api” (Mat 3:10).
Ketika mendengar karya-karya Yesus yang ternyata tidak sesuai dengan angan-angannya, Yohanes Pembaptis menjadi ragu-ragu: Benarkah Yesus itu Mesias? Karena dalam teologi Yahudi kemampuan melakukan mukjizat tidak menjadi ciri khas Mesias. Para nabi juga bisa melakukannya. Maka ia mengutus murid-muridnya untuk meminta penjelasan dan klarifikasi dari Yesus sendiri. Yesus mengajak Yohanes untuk merefleksikan karya-karya yang telah dikerjakan-Nya dengan menempatkannya dalam konteks nubuat nabi Yesaya yang juga menampilkan sosok Mesias yang lembut, menguatkan, yang memulihkan kehidupan menjadi baik kembali (lih. Bacaan I).
Yohanes Pembaptis diajak untuk memahami pribadi Mesias dengan cara dan sudut pandang yang baru. Kalau Yohanes Pembaptis memahami Mesias sebagai sosok hakim yang keras, tegas dan tidak mengenal kompromi; sedang Yesus, dalam arus pewartaan nabi Yesaya menampilkan Diri sebagai Mesias yang murah hati, penuh belas kasih dan kerahiman. Mesias tidak datang dengan kemurkaan tetapi dengan pengampunan.
Proses pemulihan tidak berarti menghancurkan yang rusak tetapi dengan membangun dan memperbaiki yang tidak berjalan semestinya: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang sakit sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan, orang miskin diberikan harapan dan keyakinan bahwa Tuhan akan bertindak untuk mereka. Dengan demikian, Yesus mau menegaskan bahwa perhatian lebih besar ditujukan kepada mereka yang kurang beruntung: sakit, disingkirkan, diremehkan, mati.
Dalam keragu-raguannya Yohanes Pembaptis tetap terbuka akan karya Allah. Dia menyesuaikan angan-angannya dengan kehendak Allah. Yohanes dipuji karena sikapnya yang tegas, tidak oportunis, tidak ikut arus (ay. 7 seperti buluh yang digoyangkan angin) dan sederhana, tidak tenggelam dalam kemewahan (ay. 7 berpakaian halus di istana raja sebagai simbol kemewahan). Sikap oportun dan tenggelam dalam kenikmatan hidup yang serba mewah, enak dan mudah membuat orang tidak bisa mengambil sikap yang jelas dan tegas terhadap kebaikan, kebenaran dan kesucian. Akibatnya, kedatangan Tuhan menjadi sebuah malapetaka yang menakutkan.
Orang kecil, miskin dan tersingkirlah (dalam kisah Natal disimbolkan oleh figur para gembala) yang terbuka dan dengan gembira menyambut Tuhan dan menerima pertolonganNya, sedang orang yang mengandalkan kemampuannya sendiri dan menolak kehadiran serta karya Sang Mesias tidak akan mendapat bagian dalam kebahagiaan mesianik.
Keragu-raguan dalam hidup beriman sering kita alami ketika kenyataan yang terjadi sangat berbeda dengan harapan yang diangan-angankan, manakala harapan dan keinginan tidak terwujud serta semua usaha nampak sia-sia, saat dicekam kegalauan karena tidak menemukan solusi atas masalah kehidupan yang sedang dihadapi. Pada saat itu kita bisa kehilangan iman dan meragukan penyelenggaraan-Nya atas hidup kita. Ketika kenyataan terasa berat, menakutkan dan tidak ramah, kita cenderung melarikan diri dari-Nya untuk mencari “mesias” atau “penyelamat” lain yang bisa memberikan kemudahan dan kenyamanan entah berkhayal atau pergi ke dukun atau paranormal yang bisa memberikan penyelesaian secara instan, cepat dan mudah.
Yohanes Pembaptis mengajari kita untuk datang, bertanya kepada Tuhan dan mempercayakan Diri kepada rencana-Nya. Kita tidak selalu tahu bagaimana Tuhan berkarya tetapi kita percaya bahwa Dia tidak pernah salah dan gagal dalam karya-Nya. You may not always understand why God allows certain things to happen, but you have to be certain that God is not making any mistakes!
Saudaraku, duri hari ini adalah bunga hari esok. Tuhan akan memberikan yang terbaik kepada mereka yang dengan penuh keikhlasan menyerahkan diri kepada-Nya. Percayalah! Berfokuslah pada harapan, bukan keraguan.