BERDOALAH - Orate -
Inilah pokok ajakanNya pada hari ini: “Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang meminta akan menerima, setiap orang yang mencari akan mendapat dan setiap orang yang mengetuk akan dibukakan pintu.”
Berdoa merupakan suatu langkah yang sederhana. Namun memiliki dampak yang besar. Sayangnya tidak sedikit orang Kristen yang mengabaikan hal ini. Sehingga banyak orang percaya yang pesimis terhadap doa, sehingga enggan berdoa.
Doa sendiri yang punyai arti dasar, “Dikuatkan Oleh Allah” mengajak kita untuk ber-karakter “PRODIA”, yakni :
1. “PRO”aktif dan bukan reaktif:
Para murid proaktif dan berinisiatif meminta pada Yesus: “Tuhan ajarlah kami berdoa.” Mereka haus untuk mencari kebenaran, bukankah orang yang mencari kebenaran tanpa sadar ia sekaligus juga mencari Tuhan?
2. “DI”namis dan bukan statis:
Yesus berikan kita tiga ajakan yang dinamis, “Mintalah, maka kamu akan diberi; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu”. Ia mengajak kita hidup beriman secara dinamis: “mintalah, carilah dan ketuklah”. Dinamika iman inipun seharusnya terjadi berkali-kali dan bukan hanya ketika kita merasa terpojok dan semua pintu seakan tertutup.
3. “A”ktif dan bukan pasif:
Lihatlah doa “Bapa Kami” (Latin: Pater Noster, Jawa: Rama Kawula) memiliki 2 bagian besar, antara lain: memuji dan memohon. Kita diajak untuk selalu aktif memuji dan memohon kepada Tuhan.
Yesus merespons permintaan para murid agar diajarkan berdoa dengan memberikan doa yang kita kenal sebagai Doa Bapa Kami. Melaluinya, kita belajar unsur-unsur mendasar dari doa yang benar.
Pertama, doa berisikan pujian kepada Allah (ayat 2). Hal yang sering diabaikan atau mungkin tidak diketahui oleh orang percaya, yaitu memberikan pujian kepada Allah melalui doa. Sering doa hanya dipahami sebagai ungkapan keluh kesah hati semata, atau hanya sebagai sarana untuk menyampaikan daftar pergumulan dan keinginan kita. Ungkapan pujian dan syukur dalam doa menunjukkan kesadaran kita akan siapa Tuhan, siapa kita.
Kedua, doa juga berisikan permohonan (ayat 3). “Berikanlah kami...yang secukupnya.” Tuhan mengajar kita agar meminta kepada-Nya sesuai dengan kebutuhan, bukan untuk dihambur-hamburkan. Ia menjamin bahwa ketika kita meminta maka Ia akan memberikan sesuai dengan kehendak-Nya (ayat 9-10).
Ketiga, doa juga berisikan ungkapan pertobatan (ayat 4). Dalam doa kita mengakui pelanggaran dan dosa kita, tanpa perantara dan langsung kepada Allah. Bagian ini menuntut kejujuran dan keterbukaan kita pada-Nya, sehingga dengan begitu Ia akan mengalirkan kasih dan peng-ampunan-Nya pada kita.
Keempat, berdoalah seolah kita sedang berbicara pada seorang sahabat (ayat 5-8). Tanpa mengurangi penghormatan kita pada Allah, Tuhan mengajar kita untuk berdoa seperti sedang berdialog dengan sahabat kita, ada kedekatan, keakraban dan tanpa kecanggungan.
Kelima, berdoa seperti seorang anak kepada bapaknya (ayat 11-13). Hubungan itu tentu memiliki ikatan emosional yang tinggi. Seorang bapak pasti berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk anaknya. Demikian pula dengan Allah Bapa tentu juga akan memberikan yang terbaik bagi anak-anak-Nya.
Saudaraku, marilah kita berdoa ‘Bapa Kami’ dengan berkarater ‘prodia’ sehingga kita sungguh dapat mengalami secara pribadi kekuatan doa. Tuhan memberkati kita sekeluarga. Amin. (Hd)