arrow_back Kembali
Ruang Katekese 26 July 2015

BERDOA DAN BERSYUKUR

Dalam bacaan Injil hari ini dikisahkan Yesus karena tergerak hatiNya oleh belaskasihan menggandakan roti dan ikan untuk memberi makan ribuan orang yang sedang kelaparan, maka kita diharapkan berbesar hati dan rela berkorban, meneladan seorang anak yang rela memper-sembahkan semuanya bekal lima roti dan dua ekor ikan kepada Tuhan, untuk dibagikan kepada mereka yang miskin dan kelaparan.

“Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki” (Yoh 6:11)

     Berdoa dan bersyukur itulah yang dilakukan oleh Yesus dalam mengadakan mujizat penggandaan roti dan ikan. Sebagai orang beriman kita semua dipanggil untuk senantiasa berdoa dan bersyukur dalam perjalanan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Jadi isi doa kita yang utama dan pertama-tama adalah syukur, bersyukur karena kita dianugerahi hidup serta segala sesuatu yang kita butuhkan untuk hidup, sehingga kita dapat hidup sebagaimana adanya pada saat ini. Karena segala sesuatu yang kita miliki dan kuasai serta telah kita nikmati sampai kini adalah anugerah Allah yang telah kita terima melalui sekian banyak orang yang telah berbuat baik kepada kita, mengasihi dan memperhatikan kita melalui aneka cara dan bentuk.

     Allah telah menyediakan aneka kebutuhan bagi manusia agar dapat hidup sejahtera dan damai bahagia, dan segala jenis harta benda yang tercipta berkat kerjasama kita manusia juga pada dirinya bersifat sosial, maka seandainya kita semakin memiliki aneka jenis harta benda hendaknya senantiasa hidup sosial. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kiranya setiap hari kita berdoa Bapa Kami, yang diajarkan oleh Yesus, dan diantaranya kita berdoa “Berilah kami rejeki hari ini”.  Isi doa ini tidak lain adalah permohonan kita agar kita senantiasa hidup sederhana dan tidak berfoya-foya, tidak serakah sebagai-mana dilakukan banyak orang yang berusaha mengumpul-kan harta benda dan uang, sehingga orang lain tidak memperoleh bagian. Kita dapat meneladan tokoh dunia, misalnya Mahadma Gandi dan Ibu Teresa dari India, yang sungguh hidup sangat sederhana, memperhatikan mereka yang miskin, berkekurangan dan kurang diperhatikan.

   Bila anda mempekerjakan orang dalam usaha anda, berilah imbal jasa atau gaji yang memadai untuk hidup layak kepada mereka. Sadari dan hayati bahwa segala usaha maupun hasil usaha anda sangat tergantung dari mereka, yang bekerja membantu dan menjalankan usaha anda, tanpa mereka usaha anda tidak dapat berlangsung dan berkembang sebagaimana adanya pada saat ini. Sebagai warga masyarakat, kita perlu peka terhadap saudara-saudari kita yang miskin, menderita dan berkekurangan, dan hendaknya kita solider terhadap mereka dengan memberikan sebagian harta benda dan kekayaan kita bagi mereka.

   Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, kita juga dipanggil meneladan kenabianNya, sehingga siapapun yang bertemu dengan kita atau kita layani akan berkata sebagaimana orang-orang yang telah menikmati penggandaan roti dan ikan berkata “Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia” . Dengan kata lain biarlah mereka yang bertemu dengan kita atau kita layani senantiasa menyaksikan Allah yang hidup dan berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini. Marilah kita sebarluaskan kebenaran ilahi antara lain bahwa manusia adalah makhluk sosial, demikian juga aneka jenis harta benda pada diri kita ini bersifat sosial.

“Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu. Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.” (Ef 4:1-2)

     Sebagai orang beriman kita semua dipanggil untuk hidup dan bertindak “rendah hati, lemah lembut, sabar dan saling membantu dalam kasih”. Marilah kita berupaya untuk memperbaharui diri menjadi rendah hati, lemah lembut, sabar dan saling membantu dalam kasih. Penghayatan rendah hati pada masa kini antara lain dapat kita wujudkan dengan tidak mengeluh atau menggerutu ketika kita harus menghadapi masalah, tantangan, hambatan atau gangguan dalam cara hidup dan cara bertindak kita yang setia pada iman, panggilan dan tugas perutusan. Kerendahan hati merupakan keutamaan dasar dan utama yang harus kita hayati dan sebarluaskan.

   Saudaraku, marilah kita saling membantu dalam dan dengan kasih, lemah lembut dan sabar satu sama lain.  Kasih tidak dapat dibatasi, maka hendaknya kita membantu siapapun, tanpa pandang bulu, lebih-lebih mereka yang miskin dan berkekurangan. “Berikanlah kepada orang-orang itu, supaya mereka makan, sebab beginilah firman TUHAN: Orang akan makan, bahkan akan ada sisanya.” (2Raj 4:43), demikian firman Tuhan melalui Elisa. Kutipan ini kiranya semakin memperjelas, memperteguh dan menguatkan kita untuk saling membantu satu sama lain dalam hidup dan kerja bersama. Tuhan memberkati. (Hd)