arrow_back Kembali
Ruang Katekese 07 August 2018

BERBAGI DENGAN SESAMA

BERBAGI DENGAN SESAMA

     Homo homini lupus est, manusia adalah serigala bagi yang lain, demikian kata pepatah kuno Latin. Demi mempertahankan keberadaan dirinya, manusia rela 'memakan' sesamanya sendiri dengan melakukan kekerasan yang menyengsarakan, bahkan mematikan. Cakar-mencakar berebut 'tempat basah' dan bantai-membantai demi rezeki, bukan cerita asing lagi bagi kita dan merupakan berita harian yang tiada habisnya.
   Berbeda halnya, ketika seorang pekerja sosial mendengar bahwa ada satu keluarga sudah beberapa hari tidak lagi mempunyai makanan; ia membawa nasi secukupnya untuk keluarga malang itu. Ibu keluarga menerima hadiah itu dengan mata berkaca-kaca penuh syukur. Ia langsung membagi nasi atas dua bagian yang sama banyak, lalu menghantar sebagiannya ke satu keluarga tetangganya.
Pekerja sosial itu merasa sangat heran, lalu bertanya: "Mengapa ibu memberikan nasi itu kepada tetangga, bagian nasi yang sisa itu mungkin tidak akan cukup lagi bagi keluarga ibu!" Tetapi ibu itu menjawab: "Tetangga kami juga tidak mempunyai apa-apa untuk makan!"  Ibu ini jelas memiliki kemauan dan kerelaan untuk berbagi dengan sesama. Kekurangan tidak menyurutkan hasrat kuatnya untuk berbagi. Inilah mentalitas kristiani yang secara konkrit bersentuhan dengan hidup manusia yang juga seharusnya  kita miliki.
Memang memiliki kemauan dan kerelaan berbagi itu bukan soal mudah! Karena kesadaran ini lebih merupakan soal mental dan keutamaan. Mental kebanyakan orang hanya berpikir ingin menerima dan memiliki, karenanya mereka merasa berat hati untuk rela berbagi apa yang dimilikinya kepada sesamanya. "Kecemasan akan rezeki hidup sehari-hari lebih merupakan masalah materiil; tetapi kecemasan akan rezeki bagi sesama lebih merupakan masalah keutamaan."
Perbuatan baik akan menjadi suatu keutamaan hanya bila ditujukan kepada hidup manusia yang real dan dilakukan oleh orang yang mempunyai kesadaran, kemauan serta kerelaan untuk berbagi. Kesadaran, kemauan dan kerelaan berbagi dengan sesama ini senada dengan maksud dan tujuan yang ingin digambarkan dalam kisah Yesus memberi makan lima ribu orang dengan menggandakan lima roti jelai dan dua ekor ikan. (Yoh 6:1-15). Yesus mau memperlihatkan bahwa     Allah dapat bekerja melampaui ketidak-mampuan dan ketakberdayaan kita; asal kita percaya dan menyerahkan serta melibatkan Allah dalam ketidak-mampuan dan ketak-berdayaan kita. Memang Allah seringkali berkarya melampaui pikiran dan perhitungan manusia.
Saudaraku, adakah kesadaran, kemauan serta kerelaan Anda bekerjasama dan mem-percaya-kan seluruh ketidak-mampuan dan ketak-berdayaan hidup Anda kepadaNya?