arrow_back Kembali
Renungan 14 March 2016

BELAS KASIH : BERHARAP DAN BERUSAHA

Bagaimana kita melihat manusia? Pada dasarnya baik atau jahat? Ini sangat menentukan sikap kita pada sesama dan diri sendiri. Jika pada dasarnya manusia itu jahat, maka kita mudah putus asa, enggan bertobat atau berusaha menjadi baik. Terhadap sesama kita juga bersikap mudah menghukum, termasuk hukuman mati. Bukankah di balik hukuman mati sebenarnya kita tak punya harapan bahwa  orang bisa menjadi baik. Bukankah dengan putus asa sebenarnya kita menghukum mati diri kita sendiri? Di balik perceraian sebenarnya juga ada sikap putus asa, menghukum mati pasangan dan diri sendiri, tak lagi berharap karena pada dasarnya manusia itu jahat. Itulah juga sebabnya dalam pergaulan dan kerjasama sehari-hari kita juga gampang bercerai, entah dengan mengeluarkan sesama dari pergaulan dan kerjasama dengan kita(termasuk dalam organisasi kegerejaan), atau kita yang keluar.
Sekarang bagaimana Tuhan melihat manusia? Ternyata Tuhan berbeda, Dia melihat pada dasarnya manusia itu baik. Silakan melihat diri sendiri dan sesama di sekitar kita. Betapa banyak dosa kita, betapa sering kita tidak setia, bahkan mengkhianati Tuhan. Namun Tuhan tetap membiarkan kita hidup. Tuhan tetap memberi kita kesempatan untuk bertobat, karena Dia percaya manusia pada dasarnya baik dan bisa bertobat. Dia menciptakan kita manusia itu sungguh amat baik adanya (Kej 1:31)
Ketika memaklumkan Tahun ini sebagai Tahun Yubelium Belas Kasih, Paus mengingatkan kita bahwa Kristus adalah wajah belah kasih Allah (Misericordiae Vultus). Dalam injil hari ini Yesus mengecam kebiasaan kita untuk menghubungkan malapetaka dengan dosa yang sebenarnya sama dengan meyakini kekejaman Tuhan yang tak kenal belaskasih. Di lain pihak Yesus juga mengingatkan bahwa kalau kita tidak bertobat, pasti kita akan mengalami kematian yang mengerikan. Itu bukan karena kekejaman Allah, tapi akibat kesembronoan kita sendiri.
Namun yang menarik adalah bagian kedua injil ini yang menunjukkan belas kasih Tuhan Yesus (pengurus kebun) yang memberi kesempatan pada pohon ara. Dia bukan hanya memberi kesempatan, namun berusaha keras dengan menggemburkan tanah dan memupuk sekeliling pohon ini. Inilah juga kesempatan dan usaha yang diberikan Kristus dalam Masa Tobat ini. Mari kita menyadari betapa karena egoisme kita ini sering tidak mau berbuah dalam berbuat kasih, dalam ikut membangun masyarakat dan Gereja kita agar lebih hidup dan nyaman. Mari kita membuka kekerasan hati kita untuk digemburkan dengan pantang dan puasa agar dapat membaca sabda Tuhan, dan menyambut pupuk yang diberikan Tuhan dengan rendah hati dan penuh kesungguhan yakni rahmat dan sakramen Tobat serta Ekaristi. Jangan bertegar hati mengeraskan hati, jangan biarkan dirimu mandul tak berbuahkan kasih. Tuhan Yesus sudah memberi kita kesempatan dan mengusahakan pertobatan kita hingga menumpahkan darahNya di kayu salib! (sad budi)