BELAJAR MENDENGAR
“Bukan dengan bicara, tetapi dengan mendengarkan kita bisa banyak belajar.”
Dalam kehidupan sehari-hari kita tak pernah luput dari yang namanya komunikasi. Komunikasi menjadi faktor penentu keutuhan hubungan kita dengan makhluk lainnya, khususnya hubungan kita dengan sesama manusia. Oleh karena itu, dalam mengembangkan komunikasi yang efektif salah satunya harus mampu untuk mendengar.
Saudara terkasih, dalam bacaan pertama dikisahkan tentang tokoh Abraham. Abraham adalah manusia pilihan Tuhan. Abraham, yang disebut “Bapak semua orang beriman” tinggal tenang di Haran. Namun, Tuhan berfirman kepadanya untuk meninggalkan negerinya, sanak saudara, warisan orang tuanya, dan pergi ke suatu daerah asing (Kej 12: 1-4a). Andaikata, kejadian ini menimpa salah satu dari kita apalagi jika kita sudah mempunyai kedudukan/jabatan yang tinggi, berlimpah harta lalu tiba-tiba disuruh pindah ke suatu daerah yang tak jelas tentu kita akan sulit menerimanya dan terjadi penolakan. Berbeda dengan Abraham. Ia tak menolak sedikitpun perintah Tuhan atas dirinya. Ia mendengarkan kemudian berangkat seturut sabda Tuhan. Saat itu pula, gerak hidupnya menjadi baru. Ia mendengar dan percaya kepada Tuhan. Begitupula, ketika Tuhan menjanjikan banyak keturunan kepadanya (ay.5).
Dalam bacaan Injil, Transfigurasi Yesus di Gunung Tabor menyampaikan pesan serta peneguhan untuk menghayati hidup dengan iman. Petrus, Yakobus, dan Yohanes menikmati pemandangan yang menakjubkan ketika melihat Yesus berubah rupa, dan pakaianNya menjadi putih berkilauan (Luk 9:30). Lalu tampillah Musa dan Elia dalam kemuliaan. Pemandangan ini membius Petrus dan murid lainnya. Petrus mengusulkan untuk memasang tenda bagi mereka (ay.33). Kemudian, terdengarlah suara dari dalam awan, “Inilah Putraku yang Aku pilih, dengarkanlah Dia!” (ay.35).
Saudaraku terkasih, usulan Petrus untuk memasang tenda di Gunung menjadi pembelajaran untuk kita. Dalam hidup ini, kita seringkali hanya mau mendapatkan hal yang menyenangkan kita saja, gampang dan instan. Sehingga, ketika kita mendapatkan suatu yang tidak kita sukai maka reaksi kita adalah menolaknya. Salah satu dampaknya terjadi ketika kita mendengarkan kotbah saat misa. Kita seringkali merasa jengkel bila kotbah imam memakan waktu yang lama. Apalagi, kotbahnya tidak memuaskan hati kita. Akhirnya, kita sering “jajan” kotbah kesana-kemari. Bahkan mungkin, kita memilih hanya mau ikut misa jika dipimpin oleh imam A,B atau C. Hal ini tentu sangat memilukan kita sebagai umat beriman.
Peristiwa transfigurasi di Gunung Tabor meneguhkan kita sebagai umat beriman untuk tidak memimpikan kebahagiaan yang serba instan. Kita harus turun dari kemuliaan di gunung, dan hidup di dunia real, berjuang dan bahkan menderita. Begitupula, kita hendaknya belajar menjadi manusia pendengar seperti Abraham. Apalagi, yang harus kita dengarkan adalah Sang Sabda yaitu Yesus Kristus Tuhan kita. Pertanyaan bagi kita, sudahkah saya menjadi manusia pendengar bagi keluarga, lingkungan, masyarakat terlebih bagi Tuhan dalam hidup saya? (Frater).