arrow_back Kembali
Renungan 09 January 2016

BAGAIKAN BEJANA

“Bagaikan bejana siap dibentuk, demikian hidupku di tanganMu dengan urapan kuasa RohMu ku dibaharui selalu. Ku mau sepertiMu Yesus disempurnakan selalu dalam setiap langkahku memuliakan namaMu.”   
Saudaraku, dalam warta gembira hari ini dikisahkan Yesus yang meninggalkan Nazaret dan pergi ke sungai Yordan untuk menggabungkan diri dengan banyak orang, pengikut Yohanes Pembaptis, dan menerima baptisan dari Yohanes. Ia mengawali tugas perutusanNya dengan menerima baptisan (Luk 3 : 21). Ia mendapat kasih karunia Allah Bapa, “Dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: “Engkaulah Anak-Ku  yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan” (ay. 22).
Sekilas kita melirik sepenggal syair lagu diatas, ia mengingatkan kita akan peristiwa baptisan beberapa minggu lalu tepatnya di malam Natal 2015. Suasana meriah dan gempita Natal berkumandang menyambut kedatangan Yesus Kristus Juru Selamat. Sukacita baru juga dirasakan oleh 50 baptisan baru di Paroki kita tercinta ini menjadi anggota baru Gereja. Mereka menerima Roh Kudus dan memperoleh kasih karunia dari Allah. Pembaharuan hidup setelah dibaptis dengan air, api, dan roh diharapkan mereka (kita) semakin beriman kepada Kristus, diikutsertakan dalam penderitaan, kematian, dan kebangkitan Kristus. Begitupula, mereka siap untuk dibentuk, mengabdi, menjadi saksi, diutus mewartakan kabar baik, “Lihat, itu Allahmu! Lihat, itu Tuhan Allah! Ia datang dengan kekuatan dan dengan tanganNya Ia berkuasa”(Yes 40:10).
Tuhan hadir dan berkarya dimana-mana dan kapan saja melalui ciptaan-ciptaanNya di bumi ini, tentu saja yang pertama dan utama adalah dalam diri manusia yang diciptakan sesuai dengan citraNya. Maka, pengabdian kepada Tuhan hendaknya menjadi nyata dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari kepada sesama melalui sikap melayani. Buah dari pengabdian atau pelayanan adalah kebahagiaan. Oleh karena itu, sebagai orang yang telah dibaptis marilah kita berusaha dengan rendah hati saling membahagiakan dan ‘ngemong’ panggilan (menyelamatkan) saudara kita. Orang yang selamat senantiasa melawan godaan, melakukan apa yang baik, yang berkenan pada Tuhan dan sesama (Tit 2: 11-14). Akar dari godaan adalah KEMALASAN. Sikap malas dapat meruntuhkan kesetiaan bahkan iman kita (bdk. Rom 12:11 ; Ams 12:27).
Bejana yang baik dibuat oleh tukang yang baik pula. Tindakan yang baik merupakan buah dari pendidikan dalam keluarga melalui pembentukan, pembiasaan nilai-nilai setiap hari. Sejauh mana selama ini kita menanamkan nilai-nilai kebaikan bagi anak-anak kita dan kesetiaan kita pada janji baptis tersebut? Marilah kita dengan jujur mawas diri sebagai anak-anakNya yang terkasih.                   (Fr. Paulus Roby Erlianto, CM.)