APA YANG IA KATAKAN KEPADAMU, BUATLAH
Dalam injil, Bunda Maria jarang sekali berbicara, salah satunya adalah dalam peristiwa pernikahan di Kana. Judul di atas adalah kata Bunda Maria kepada para pelayan. Dan karena ketaatan mereka, Yesus melakukan mujizatnya yang pertama. Kita lupa bahwa ketaatan kepada Yesus merupakan konsekwensi langsung kalau kita percaya kepedaNya. Tanpa ketaatan sia-sialah iman kita.
Kita tak hanya percaya bahwa Allah itu ada (setanpun percaya), kita percaya bahwa Allah mengasihi kita. Dia peduli pada hidup dan permasalahan kita (Yes 62:1-5). Justru karena kepedulianNya yang maha bijaksana, Allah memberi kita berbagai perutusan, sesuai dengan kemampuan yang dianugerahkan RohNya kepada kita: “ ada rupa-rupa pelayanan, tetapi hanya ada satu Tuhan .... semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan sama. Ia memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendakiNya” (1Kor 12:4-11)
Apakah perutusan dan kemampuan yang diberikan Tuhan kepada saya? Apakah saya sungguh melakukan perutusanNya untuk membangun dunia ini agar semakin menjadi “di atas bumi seperti di dalam surga”? Apa yang membuat saya belum melaksanakannya? Apakah kita masih bingung apa perutusan Tuhan bagi saya? Ataukah saya belum paham akan kemampuan yang dianugerahkan Tuhan kepada saya?
Perutusan Tuhan bagi kita sering kita sadari tatkala kita peduli pada dunia sekitar kita, pada kebutuhan manusia. Hal ini juga nyata dalam peristiwa Kana itu. Bunda Maria peka pada kebutuhan keluarga mempelai yang kehabisan anggur, suatu yang sangat penting dalam pesta mereka. Secara manusiawi kita bisa mengatakan Bunda Maria lah yang mendesak Yesus untuk menyadari perutusanNya dengan peduli pada kebutuhan manusia, yakni keluarga tersebut.
Dari situ kita belajar bahwa devosi kepada Bunda Maria, bukan hanya berarti mohon perlindungannya. Devosi kita juga harus disertai keterbukaan hati seperti Tuhan Yesus terhadap kebutuhan sesama yang disampaikan Bunda Maria. Bunda Maria mendorong kita untuk menyadari perutusan kita, untuk bekerjasama dengan Tuhan Yesus menanggapi kebutuhan orang di sekitar kita. Untuk itu seperti para pelayan kita perlu mentaati Tuhan Yesus, sebagaimana dipesankan oleh Bunda Maria: “Apa yang Ia katakan kepadamu, buatlah.”
Kita perlu belajar dari Bunda Maria untuk lebih peka pada kebutuhan manusia di sekitar kita. Kita perlu lebih berani menanggapi kebutuhan tersebut, mau bekerjasama dengan Tuhan Yesus. Untuk mentaati Yesus kita harus rendah hati, peka mendengarkan, tidak tenggelam dalam kesibukan kita sendiri, tidak terbelenggu oleh kebiasaan dan pemikiran kita sendiri. Jika ini kita lakukan Tuhan Yesus akan terus melakukan mujizat penyelamatanNya lewat kita yang mau taat bekerjasama denganNya. Maka semakin banyak orang akan mengalami belaskasih Tuhan yang menyelamatkan. (sad budi)