arrow_back Kembali
Renungan 28 June 2015

ALLAH MENGHENDAKI KITA HIDUP

Kitab Kebijaksanaan dalam bacaan pertama menjelaskan “Allah tidak menciptakan maut, dan Iapun tidak bergembira kalau makhluk yang hidup musnah binasa. Sebaliknya Ia menciptakan segala sesuatu supaya ada; dan supaya makhluk-mahkluk jagat menemukan keselamatan”. (Keb 1:13-14). Allah telah menciptakan manusia untuk keabadian dan menjadikannya gambar hakikat Nya sendiri. Hidup dan mati merupakan misteri yang berarti bagi manusia, dan tak akan habis-habisnya misteri itu digali dan dikaji.

Hidup membawa sejarah dan bagaimana dengan kematian?. Kitab kebijaksanaan memberikan suatu jawaban atas kematian. Manusia dijadikan supaya menjadi abadi karena dicintai Allah. Karena itu Kematian membuka cakrawala baru dalam kehidupan manusia. Persatuan dengan Allah membuka Cakrawala abadi. Dan dalam cakrawala itu hidup dan mati mempunyai peranan dan artinya.

Alam semesta membantu manusia mengembangkan kwalitas kehidupan bagi keabadian. Allah yang mencintai manusia memberikan segalanya, kemungkinan dan sarana, supaya manusia yang dicintainya itu “mengisi” kehidupannya. Kalau Allah mencintai manusia, maka Ia akan menyediakan masa depan bagi orang yang dicintainya, juga kendati kematian menghadangi mereka di jalan.

Manusia bukan hanya bercakrawala ilahi, dikasihi Allah, tetapi juga merupakan gambar Allah (bdk. Kej.1:26). Karena manusia menjadi gambar Allah maka ia mengambil bagian dalam hidup ilahi.

Realitas kematian masih tetap membuka pertanyaan. Kitab Kebijaksanaan memberikan jawabannya bahwa dengki dan kuasa jahat merongrong cakrawala itu (lih. Keb.1:24),sehingga dapat menimbulkan kekaburan.

Dalam Injil Markus dikisahkannya tentang kebangkitan anak Yairus dan perempuan yang sakit pendarahan sudah dua belas tahun itu disembuhkan. Markus menekankan supaya mujizat itu tidak diumumkan, bahkan mereka dilarang untuk menceriterakan kejadian ini, meskipun sebetulnya hal ini mustahil dilaksanakan, mengingat hadirnya banyak orang saat itu, reaksi spontan dari orang tua si anak sendiri yang tentunya akan menyiarkan apa yang dialami. Namun di sini terlihat usaha Markus untuk mempertentangkan anjuran untuk diam dan mewartakan, dialektik antara menyembunyikan dan mewahyukan diri. Bagaimanapun juga ada hal yang menonjol dalam Injil itu : Yesus berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan kesan bahwa Ia hanyalah seorang pembuat mujizat. Yesus tampil sebagai pribadi pencinta dan pembawa kehidupan. Karena itu dapat disimpulkan bahwa melalui Yesus Allah menghendaki kita hidup dan bukan mati. Dan dari Kita diharapkan selalu sikap pertobatan dan perbaikan diri dengan memperkuat iman kita.

Rm. J. Widajaka, CM.