ALLAH BERBELAS KASIH
Ketiga bacaaan Minggu ini mewartakan dengan semakin mendalam “Siapakah Allah kita”. Tiga sorotan berbelaskasih Allah tampak dalam bacaan pertama Kel 32 : 7-11. 13-14, yaitu dialog Allah dengan Musa. Ketika Musa di puncak Sinai menerima pewahyuan hukum, umat di kaki bukit menciptakan dewa dari emas. Atas kesalahan itu Musa mengajukan permohonan maaf kepada Allah. “Musa mencoba melunakkan hati Tuhan, Allahnya, dengan berkata, “Mengapakah, Tuhan, murka-Mu terhadap umat-Mu, yang telah Kau bawa keluar dari tanah Mesir dengan kekuatan yang besar dengan tangan yang kuat?”…... (ayat 11-13). Dan akhirnya “menyesallah Tuhan atas malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya” (ayat 14).
Misteri Kasih Allah dalam hidup memang merupakan pengalaman bagi manusia yang mengagumkan. Pengalaman Musa sebenarnya juga merupakan gambaran kita manusia, yang mengalami Kasih Allah yang luar biasa. Allah tetap Allah yang bisa murka terhadap kedurhakaan dan menganggap kegagalan dalam hubungan kasih sebagai kejahatan serius, karena kasih Allah itu tulus, tetapi Allah yang tidak pernah kehabisan upaya untuk mengasihi, juga Allah yang besar dalam melaksanakan Karya Penyelamatan.
Dalam Injil Suci Luk. 15:1-32, Yesus menanamkan diri sebagai Gembala yang baik dan sangat memperhatikan setiap anak domba. Dengan ini Kristus masuk dalam deretan tokoh-tokoh gembala dalam Perjanjian Lama (Abraham, Iskak, Yakub, dan putera-puteranya: Musa, Saul, dan lebih-lebih Daud), memenuhi dan sekaligus mengatasi mereka. Motif gembala dari perjanjian lama, yang secara sadar digunakan oleh Kristus erat hubungannya dengan gagasan tentang Perjanjian “Beliau adalah Allah kita dan kita adalah umat-Nya dan domba-domba dari kawanan-Nya” (Mzm 95:7).
Berlawanan dengan kekerasan hati para pemimpin manusiawi, para ahli kitab dan Farisi, Allah membiarkan orang-orang lemah digembalakan dalam padang rumput-Nya serta orang-orang miskin memperoleh pengayoman (bdk. Yeh 34:1-34). Yesus Kristus mengejutkan orang-orang Farisi dan Ahli Kitab, karena Yesus mau menerima dalam kelompok yang diselamatkan-Nya yaitu mereka yang menurut perhitungan lazim termasuk orang-orang buangan. Juga mereka yang tertebus dalam Perjanjian Baru tidak boleh menganggap surga bagi mereka saja. Kerapkali Allah melindungi dengan limpahan Rahmat-Nya orang-orang yang oleh sesamanya dikecualikan dari Kerajaan surga. Kita tidak boleh membatasi lapangan bekerjanya Rahmat Allah.
Inilah paradox dari Allah yang Mahakudus, bahwa Allah ada dalam dialektis : membenci dosa manusia dan sekaligus bernyala-nyala cinta-Nya untuk membebaskan manusia dari kedosaannya. “Di mana dosa bertambah banyak, di sana Kasih Karunia menjadi berlimpah, supaya sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian pula Kasih Karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal oleh Yesus Kristus, Tuhan kita” (Rom 5:20).
Rm. J. Widajaka CM